Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kenapa Bekerja Lebih dari 40 Jam Seminggu Berbahaya bagi Kesehatan Mental?

Kenapa Bekerja Lebih dari 40 Jam Seminggu Berbahaya bagi Kesehatan Mental? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Batasan bekerja 40 jam seminggu terkadang tidak mudah diterapkan. Beberapa dari pekerja seringkali harus lembur atau bekerja lebih lama karena beban kerja yang diberikan oleh perusahan.

Padahal menurut beberapa studi, bekerja lebih dari 40 jam dapat berdampak buruk pada kondisi fisik dan kesehatan mental seseorang. Hal ini dikarenakan tubuh dan otak mendapat tekanan ekstra saat melakukan pekerjaan berlebihan.

Beberapa waktu lalu di media sosial sempat viral karena CEO baru Twitter, Elon Musk, mengatakan pada karyawannya untuk bekerja dengan 12 shift selama tujuh hari.

Hal ini tentu menimbulkan pro dan kontra, terlebih lagi para ahli banyak mengatakan kalau bekerja terlalu lama dapat membahayakan kesehatan.

Melansir dari Nivati, berdasarkan sebuah penelitian di tahun 2019 yang dilakukan pada pekerja di Amerika, sebanyak 94% pekerja mengalami stres di kantor.

Hal tersebut dikarenakan terlalu banyak bekerja sehingga menyebabkan burnout, yakni kondisi stres karena pekerja merasa lelah secara fisik, mental dan emosional karena pekerjaan.

Beberapa hal yang dirasakan ketika pekerja mengalami burnout yakni, depresi, gangguan kecemasan, kelelahan secara emosional, migrain, gangguan tidur hingga rutinitas yang buruk dan kacau.

Sementara menurut Huffpost, bekerja lebih dari 40 jam akan berdampak pada kesehatan mental seorang pekerja.

Sebuah studi yang dilakukan tahun 2020 dalam jurnal PLOS ONE saat mengamati pekerja Korea berusia 20 sampai 30-an yang bekerja lebih dari 60 jam seminggu.

Peneliti menemukan fakta bahwa semakin seseorang melakukan pekerjaan dalam waktu lama, mereka akan mengalami depresi, stres hingga keinginan bunuh diri.

Tak hanya itu, kesehatan mental juga akan terganggu karena kualitas tidur yang menurun karena seseorang harus mengerjakan deadline hingga begadang.

Dalam sebuah penelitian dari tahun 1998 sampai 2018 dalam Journal of Environmental Research and Public Health, menyatakan bahwa durasi tidur pendek adalah karena jam kerja yang panjang.

Penelitian tersebut didasarkan pada aktivitas orang-orang yang bekerja sampai 60 jam seminggu. Saat mengalami kelelahan pekerjaan, seseorang akan mengalami kondisi mental yang buruk hingga gangguan tidur.

Padahal kekurangan tidur dapat menyebabkan emosi seseorang terganggu dan tidak stabil. Mereka akan lebih mudah tersinggung, stres dan rentan pengambilan resiko yang impulsif.

Kelelahan dan stres karena terlalu banyak melakukan pekerjaan tentunya akan berdampak pada produktivitas seseorang.

Baca Juga: Kenapa FOMO dapat Menjadi Penyebab Stres di Kalangan Generasi Muda?

Menurut seorang ekonom, Stanford Jon Pencavel, “Karyawan yang bekerja untuk waktu yang lama dapat mengalami kelelahan atau stres yang tidak hanya mengurangi produktivitasnya, tapi juga meningkatkan kemungkinan kesalahan, kecelakaan, dan penyakit yang membebankan biaya pada pemberi kerja.".

Meskipun banyak perusahaan berpikir dengan meminta pekerja untuk bekerja lebih lama dapat meningkatkan produktivitas, nyatanya hal tersebut tidak baik bagi kesehatan mental. (WE Trivia/Sabriena Yully Puspita)

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: