Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Airlangga Kasih Paham Moody’s soal Danantara dan MBG

Airlangga Kasih Paham Moody’s soal Danantara dan MBG Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah perlu memberikan penjelasan menyeluruh kepada Moody’s Ratings terkait kebijakan fiskal dan pembiayaan investasi, termasuk pembentukan Danantara dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul keputusan Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif meski peringkat tetap investment grade Baa2.

“Moody’s itu sebetulnya masih investment grade, Baa2, cuma dia kasih outlook negatif. Outlook negatif itu membutuhkan penjelasan dari pemerintah, dan juga lembaga baru Danantara,” kata Airlangga dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Airlangga menjelaskan, struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini berbeda karena pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program unggulan Presiden, seperti MBG, Koperasi Merah Putih, serta berbagai layanan publik yang dibiayai langsung dari APBN.

“APBN kita tahun ini agak berbeda karena banyak melontorkan program unggulan Presiden seperti makan bergizi gratis, Koperasi Merah Putih, dan pelayanan masyarakat yang menggunakan dana APBN,” ujar Airlangga.

Baca Juga: Respons Outlook Negatif Moody’s, Airlangga: Mereka Perlu Penjelasan Pemerintah

Namun, untuk mendorong pertumbuhan melalui investasi, pemerintah kini menggunakan Danantara sebagai instrumen pembiayaan investasi di luar belanja anggaran rutin. Menurut Airlangga, perubahan pendekatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh lembaga pemeringkat dan pelaku pasar keuangan global.

“Untuk menggerakkan pertumbuhan melalui investasi, sekarang kita sudah punya Danantara. Kalau sebelumnya investasi dilakukan melalui anggaran, kali ini dilakukan melalui Danantara. Ini yang banyak rating agency ataupun pasar keuangan global belum paham,” katanya.

Airlangga menambahkan, keberadaan Danantara bertujuan membuka potensi investasi dan mereformasi badan usaha milik negara (BUMN) agar dapat bergerak lebih fleksibel dan mendekati praktik sektor swasta.

“Dengan Danantara, kita membuka dan melakukan reformasi terhadap state-owned enterprise yang selama ini diminta untuk dipisahkan dan bisa bergerak seperti private sector,” ujarnya.

Terkait MBG, Airlangga memaparkan kontribusi program tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut anggaran MBG mencapai sekitar Rp80 triliun per kuartal, lebih besar dibandingkan belanja bantuan sosial sebelumnya yang berada di kisaran Rp30–37 triliun per kuartal. Belanja MBG tersebut terutama mengalir ke wilayah pedesaan.

“Dengan adanya MBG, belanjanya sekitar Rp80 triliun per kuartal dan itu di level pedesaan,” kata Airlangga.

Baca Juga: Respon Pemerintah Usai Moody's Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Ia menambahkan, MBG diperkirakan menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja. Berdasarkan kaidah umum para ekonom, setiap pertumbuhan ekonomi 1% setara dengan sekitar 400 ribu lapangan kerja. Airlangga menyebut pada tahun lalu Indonesia mampu menciptakan lebih dari 1,3 juta lapangan kerja.

“Kalau kontribusinya kita hitung secara sederhana, meskipun kita diskon, kontribusi MBG sekitar 3%. Ini bisa mendorong pertumbuhan dari baseline 5% menjadi sekitar 8%,” ujar Airlangga.

Menurutnya, pemerintah akan menjaga agar belanja tetap terkelola sehingga efek pengganda ekonomi dapat berjalan optimal. Di luar MBG, program bantuan sosial lainnya tetap dilanjutkan. Pemerintah, kata Airlangga, tetap optimistis menjaga stabilitas makroekonomi, dengan defisit anggaran di bawah 3% dan rasio utang di bawah 40%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: