Moody’s Pangkas Outlook Tujuh Perusahaan Ini Usai Outlook RI Negatif
Kredit Foto: Unsplash/Isaac Smith
Moody’s Ratings merevisi outlook menjadi Negatif dari Stabil terhadap tujuh korporasi non-keuangan di Indonesia, menyusul perubahan outlook Pemerintah Indonesia ke Negatif dengan peringkat sovereign tetap di level Baa2 pada 5 Februari 2026.
Dalam keterangannya, Moody’s menegaskan seluruh peringkat ketujuh korporasi tersebut tetap dipertahankan. Dari jumlah tersebut, lima merupakan government-related issuers (GRI) yang mayoritas dimiliki negara, sementara dua lainnya berasal dari sektor swasta dan berada pada level peringkat yang sama dengan sovereign Indonesia.
Moody’s menyatakan pemangkasan outlook terutama dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif dalam satu tahun terakhir. Kondisi tersebut, jika berlanjut, dinilai berpotensi mengikis kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi, fiskal, dan sistem keuangan nasional.
Baca Juga: OJK: Pemangkasan Outlook Moody’s Tak Goyahkan Fundamental
Dalam kerangka joint default analysis (JDA), Moody’s menekankan bahwa kualitas kredit pemerintah menjadi faktor utama penentu peringkat GRI. Oleh karena itu, korporasi dengan tingkat ketergantungan tinggi terhadap dukungan negara dinilai sensitif terhadap perubahan profil risiko sovereign.
Moody’s mencatat dua badan usaha milik negara (BUMN), yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dan PT Telekomunikasi Selular, tetap berada satu tingkat di atas peringkat sovereign pada level Baa1. Peringkat tersebut ditopang oleh kualitas kredit mandiri yang kuat, likuiditas yang sangat baik, serta posisi dominan di industri telekomunikasi domestik. Meski demikian, Moody’s menilai skala usaha global yang relatif terbatas dan potensi intervensi pemerintah tetap menjadi faktor pembatas peringkat.
Sementara itu, tiga GRI lain berada pada level yang sama dengan sovereign Baa2, yaitu PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi, dan PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID). Peringkat ketiganya didukung oleh ekspektasi dukungan luar biasa dari pemerintah, namun tetap menghadapi risiko eksekusi investasi berskala besar, volatilitas harga komoditas, serta ketidakpastian regulasi.
Baca Juga: Rosan Jawab Kekhawatiran Moody’s soal Danantara
Untuk sektor swasta, Moody’s juga merevisi outlook menjadi Negatif terhadap PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dan PT United Tractors Tbk. Kedua emiten mempertahankan peringkat Baa2, ditopang oleh posisi pasar yang kuat, likuiditas yang solid, serta kebijakan keuangan yang konservatif. Namun, Moody’s menilai eksposur terhadap kondisi makroekonomi domestik, siklus industri, serta kualitas kredit mitra usaha tetap menjadi sumber risiko.
Moody’s menegaskan bahwa dengan outlook Negatif, tidak terdapat ruang kenaikan peringkat dalam waktu dekat. Outlook dapat kembali Stabil apabila outlook sovereign Indonesia pulih. Sebaliknya, penurunan peringkat korporasi berpotensi terjadi apabila peringkat negara diturunkan, dukungan pemerintah melemah, atau metrik keuangan korporasi mengalami penurunan signifikan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri