Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bitcoin Jatuh ke US$60.000, Indodax: Aksi Jual Institusi dan Likuidasi Besar Jadi Biang Keroknya

Bitcoin Jatuh ke US$60.000, Indodax: Aksi Jual Institusi dan Likuidasi Besar Jadi Biang Keroknya Kredit Foto: Indodax
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga Bitcoin (BTC) anjlok tajam dan sempat menyentuh US$60.000 pada perdagangan Jumat (6/2). Penurunan hampir 30% dalam sepekan terakhir dipicu kombinasi likuidasi besar posisi leverage dan aksi jual investor institusional, menurut PT Indodax Nasional Indonesia (INDODAX).

Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi di pasar kripto melampaui US$1,8 miliar dengan mayoritas berasal dari posisi long. Lebih dari 500.000 trader terdampak, termasuk satu posisi Bitcoin senilai lebih dari US$12 juta yang terlikuidasi di bursa global.

Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan tekanan jual terjadi secara bersamaan sehingga mempercepat koreksi harga.

“Ketika tekanan jual terjadi bersamaan, pasar kripto bisa bergerak sangat cepat karena banyak posisi ditutup dalam waktu yang sama,” ujarnya. 

Baca Juga: Analis Prediksi Harga Bitcoin (BTC) Bisa Anjlok hingga US$38.000

Selain likuidasi, tekanan juga datang dari investor besar. Aktivitas pada exchange-traded fund (ETF) Bitcoin menunjukkan lonjakan volume perdagangan. ETF Bitcoin spot BlackRock, IBIT, mencatat transaksi harian tertinggi melampaui US$10 miliar bersamaan dengan penurunan harga unit dan arus dana keluar dalam jumlah besar, menandakan pelepasan kepemilikan oleh institusi.

Dari sisi teknikal, Antony menyebut Bitcoin kehilangan area support di kisaran US$65.000–US$62.000.
“Bitcoin telah kehilangan area support di kisaran US$65.000 hingga US$62.000. Jebolnya level tersebut memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area US$60.000,” kata Antony.

Tekanan jual tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) sempat turun di bawah US$1.800, sementara Solana (SOL) menembus US$70 untuk pertama kali sejak Desember 2023, menandakan pelemahan meluas di pasar kripto.

Baca Juga: Bitcoin (BTC) Anjlok, Prediksi Michael Burry Akan Jadi Kenyataan?!

Menurut Antony, kondisi tersebut berkaitan dengan sentimen global. “Yang terjadi hari ini bukan hanya soal kripto. Tekanan juga terlihat di pasar saham teknologi dan aset berisiko lain. Di mana, ketika investor global mengurangi eksposur risiko, kripto biasanya juga ikut terdampak,” tegasnya.

Ia menilai pasar tengah memasuki fase risk-off akibat pengetatan likuiditas dan rilis data ekonomi yang mengecewakan dari sejumlah negara. Selama sentimen global belum stabil, volatilitas dinilai masih tinggi.
“Selama sentimen global belum stabil, pergerakan Bitcoin masih akan mudah berfluktuasi,” lanjutnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: