Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Timur Tengah Guncang Bitcoin, Indodax Soroti Pentingnya Manajemen Risiko

Konflik Timur Tengah Guncang Bitcoin, Indodax Soroti Pentingnya Manajemen Risiko Kredit Foto: Indodax
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga Bitcoin bergerak volatil di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah ketegangan antara Amerika Serikat–Israel dan Iran memicu penutupan Selat Hormuz serta serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer AS di kawasan Teluk.

Kondisi geopolitik tersebut memicu gejolak di berbagai pasar keuangan global, termasuk aset kripto, sehingga pelaku industri menekankan pentingnya manajemen risiko bagi investor.

Data CoinMarketCap menunjukkan Bitcoin sempat terkoreksi ke level sekitar US$63.100 pada akhir pekan, kemudian melonjak hingga US$70.000 di awal pekan dan kini bergerak di kisaran US$68.000. Kapitalisasi pasar kripto global tercatat sekitar US$2,33 triliun di tengah volatilitas yang meningkat.

Gejolak pasar dipicu eskalasi konflik sejak Sabtu (28/2) ketika ketegangan antara AS–Israel dan Iran meningkat. Situasi memanas setelah Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, dilaporkan ditutup. Selain itu, Iran juga melakukan serangan balasan terhadap fasilitas AS di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak dilaporkan naik hingga sekitar US$80 per barel, memicu sentimen risk-off di berbagai kelas aset serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan stabilitas pasokan energi global.

Di saat yang sama, harga emas dunia menguat hingga sekitar US$5.100 per troy ons seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, sementara saham teknologi di Amerika Serikat mencatat rebound terbatas.

Vice President IndodaxAntony Kusuma, mengatakan volatilitas yang terjadi di pasar kripto mencerminkan sensitivitas tinggi investor terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makroekonomi global.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya.

Menurut Antony, pada fase awal gejolak geopolitik investor biasanya mengambil sikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian investor mulai mempertimbangkan alokasi aset yang lebih defensif.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

Indodax menyatakan akan terus menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi platform di tengah dinamika pasar global. Perusahaan juga menegaskan pentingnya edukasi risiko bagi investor kripto.

Baca Juga: Lebih Tahan Banting, Begini Nasib Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (4/3)

Baca Juga: Industri Kripto RI Masuk Fase Konsolidasi, Indodax Perkuat Keamanan dan Transparansi

Baca Juga: Penurunan Harga Bitcoin (BTC) Jadi Sorotan Miliarder: Manfaatkan, Beli Sekarang!

“Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global,” katanya.

Sebagai salah satu platform pertukaran kripto di Indonesia, Indodax juga mengimbau investor untuk tetap rasional di tengah volatilitas pasar dan melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

“Di saat pasar penuh tekanan makro seperti sekarang, strategi investasi bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) tetap menjadi opsi paling bijak untuk memitigasi volatilitas,” kata Antony.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: