Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Danantara Kejar Kelayakan Teknologi DME, Target Groundbreaking April 2026

Danantara Kejar Kelayakan Teknologi DME, Target Groundbreaking April 2026 Kredit Foto: Azka Elfriza
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) memastikan tidak akan gegabah dalam mengeksekusi proyek strategis nasional hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME). Fokus utama saat ini tertuju pada validasi teknologi guna menjamin nilai keekonomian proyek di wilayah tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa penentuan teknologi merupakan variabel kunci dalam menentukan harga jual gas hasil olahan batu bara tersebut. Hal ini krusial agar DME mampu bersaing dengan LPG impor di level konsumen.

"Berkaitan dengan DME betul tadi kita tentu sesuai dengan arahan Pak Rosan kita akan melakukan kajian yang sangat detail kita sedang menentukan teknologi yang akan kita pakai," ujar Dony di sela acara Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi di Jakarta, Jumat (6/2/2026).

Dony menjabarkan bahwa pemilihan teknologi bukan sekadar soal teknis operasional, melainkan strategi untuk memastikan daya serap pasar (offtaker) tetap terjaga melalui harga yang kompetitif.

"Tentunya teknologi yang akan kita pakai akan menentukan output-nya juga kompetitif kita tidak mau nanti output gas-nya itu tidak kompetitif yang akhirnya tidak diserap oleh pasar," tegasnya.

Meski masih dalam tahap kajian mendalam, Danantara mengisyaratkan adanya akselerasi jadwal. Dony menargetkan seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek pengganti LPG ini dapat segera diumumkan sebelum memasuki kuartal kedua tahun ini.

"Insyaallah mudah-mudahan yang DME akan segera kita announce dalam satu dua bulan ini mengenai ground breaking untuk DME di Bukit Asam, terima kasih," lanjut Dony.

Proyek DME merupakan tumpuan utama Pemerintah Indonesia dalam memutus rantai ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang konsisten menekan neraca perdagangan. Berdasarkan peta jalan energi nasional, DME diposisikan sebagai substitusi langsung LPG untuk sektor rumah tangga dan industri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan urgensi proyek ini didasari oleh profil konsumsi energi nasional yang belum mandiri. Saat ini, kebutuhan LPG domestik telah menyentuh angka 8 juta ton per tahun, namun lebih dari 75% pasokan masih bergantung pada pasar luar negeri.

Tri menilai utilisasi batu bara kalori rendah (low-rank coal) menjadi DME adalah langkah paling strategis untuk mengonversi kekayaan sumber daya alam domestik menjadi energi siap pakai yang lebih terjangkau.

"Dengan adanya DME ini dapat mensubstitusi atau mengganti daripada LPG tersebut,” tegas Tri dalam acara Energy Outlook di Jakarta.


Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat

Bagikan Artikel: