Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inflasi 3,55% Januari 2026, Tito Jelaskan Penyebab Utamanya

Inflasi 3,55% Januari 2026, Tito Jelaskan Penyebab Utamanya Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% secara tahunan (year on year/yoy), melampaui target pemerintah 2,5% ±1%. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan lonjakan tersebut bukan disebabkan kenaikan harga riil barang kebutuhan pokok, melainkan dampak metodologi perhitungan inflasi yang membandingkan tarif listrik tanpa subsidi dengan periode yang sempat mendapat subsidi 50%.

Ia menegaskan, penyumbang terbesar inflasi yoy 3,55% berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menyumbang 1,72 poin persentase, dengan tarif listrik berkontribusi paling dominan sebesar 1,49 poin.

“Tarif listrik sebenarnya tidak naik. PLN tidak menaikkan, pemerintah tidak menaikkan. Yang terjadi adalah perbedaan basis pembanding,” kata Tito, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Jakarta, Senin (9/2/2026).  

Baca Juga: BI Pastikan Kenaikan Harga Emas Tak Ganggu Target Inflasi Tahun ini

Menurut Tito, pada Januari-Februari 2025 pemerintah memberikan subsidi listrik 50% bagi pelanggan rumah tangga dengan daya hingga 2.200 VA. Subsidi tersebut membuat tarif listrik pada periode itu lebih rendah dari harga normal. Sementara pada Januari 2026, subsidi serupa tidak lagi diberikan sehingga tarif kembali ke level normal.

“Ketika BPS menghitung inflasi year on year, Januari 2026 dibandingkan Januari 2025. Karena Januari 2025 harganya disubsidi, maka secara statistik terlihat seolah-olah terjadi kenaikan tajam,” ujarnya.  

Tito menjelaskan, akibat perbandingan tersebut, tarif listrik secara statistik tampak naik hingga sekitar 47%, meskipun secara riil tarifnya sama sejak Maret 2025 hingga Januari 2026. Kondisi inilah yang mendorong inflasi tahunan menembus 3,55%.

Ia menambahkan, jika komponen tarif listrik sebesar 1,49 poin dikeluarkan dari perhitungan, inflasi Januari 2026 hanya berada di kisaran 2,6%, masih dalam target pemerintah.

Selain listrik, penyumbang inflasi tahunan lainnya berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar sekitar 1 poin, terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan. Tito menyebut kenaikan harga emas bersumber dari gejolak global dan meningkatnya permintaan cadangan emas dunia akibat ketidakpastian geopolitik.

“Ini bukan hanya di Indonesia, tapi fenomena global. Banyak negara mengalihkan cadangan devisanya ke emas,” ujarnya.  

Baca Juga: Perawatan Pribadi Menyumbang Inflasi di Jakarta

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang kerap menjadi perhatian karena berdampak langsung pada masyarakat berpendapatan rendah hanya menyumbang sekitar 0,46 poin terhadap inflasi yoy.

Untuk menggambarkan kondisi harga yang lebih aktual, Tito meminta publik tidak hanya melihat inflasi yoy, tetapi juga inflasi bulanan (month to month/m-to-m). Data BPS menunjukkan inflasi Januari 2026 secara bulanan justru mengalami deflasi 0,15% dibandingkan Desember 2025.

“Month to month ini menggambarkan kondisi riil di lapangan. Januari terjadi penurunan harga dibanding Desember,” kata Tito.  

Deflasi bulanan terutama dipicu turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat deflasi 1,03%, serta kelompok transportasi seiring meredanya permintaan pascalibur Natal dan Tahun Baru.

Dengan demikian, Tito menilai inflasi 3,55% yoy tidak mencerminkan lonjakan biaya hidup secara nyata, melainkan lebih dipengaruhi faktor teknis perhitungan dan efek basis subsidi listrik tahun sebelumnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: