Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BIM Gandeng Perminas Jalankan Pilot Proyek LTJ di Sulawesi Barat

BIM Gandeng Perminas Jalankan Pilot Proyek LTJ di Sulawesi Barat Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto mengumumkan rencana strategis untuk memulai proyek percontohan (pilot project) teknologi hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) dalam waktu dekat. Proyek yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat, ini menjadi langkah awal Indonesia untuk menguasai teknologi pemurnian mineral kritis secara mandiri.

Proyek tersebut akan dijalankan bersama Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam negeri.

“Dalam waktu dekat akan segera kita lakukan, yaitu Pilot Teknologi Hilirisasi Rare Earth yang ada di Mamuju,” ujar Brian dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Baca Juga: BIM Ungkap 8 Wilayah RI Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang

Proyek percontohan ini direncanakan berlangsung selama enam bulan untuk menguji teknologi Ion Adsorption Clay(IAC), yakni metode ekstraksi LTJ yang terikat pada mineral lempung. Selain itu, proyek ini juga akan membandingkan metode in-situ—ekstraksi langsung di bawah tanah tanpa memindahkan tanah—dan ex-situ atau ekstraksi di permukaan.

Tujuan pengujian tersebut adalah menghasilkan dasar teknis bagi arah kebijakan hilirisasi LTJ nasional. Teknologi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dalam negeri akan digunakan untuk mengekstraksi bijih (ore) menjadi Mix Rare Earth Oxide (MREO) atau Total Rare Earth Oxide (TREO). Produk MREO dan TREO merupakan produk antara berupa campuran oksida logam tanah jarang yang telah terpisah dari mineral pengotornya, namun belum diproses menjadi elemen tunggal.

Brian menjelaskan potensi LTJ di Mamuju tergolong menjanjikan karena memiliki variasi unsur yang lengkap.

“(Logam tanah jarang di sana) ada light dan ada heavy. Jadi, ya, di sana ada yang banyak dicari, itu kan NDPR (Neodymium–Praseodymium), TBDY (Terbium–Dysprosium), begitu,” katanya.

Baca Juga: Industri Logam Dasar Pimpin Realisasi Investasi 2025, Capai Rp262,2 Triliun

Sebagai informasi, unsur light dan heavy rare earth elements tersebut merupakan komponen kunci dalam pembuatan magnet permanen yang digunakan pada motor kendaraan listrik serta peralatan militer berteknologi tinggi.

Blok Mamuju merupakan satu dari delapan blok prioritas nasional dengan estimasi kandungan rare earth elementsmencapai sekitar 2.000 ppm di area seluas kurang lebih 23.000 hektare. Secara keseluruhan, BIM memproyeksikan Indonesia berpotensi menguasai hingga 5% pangsa pasar global dari delapan blok LTJ tersebut.

Hilirisasi sektor LTJ diharapkan mampu memberikan kontribusi ekonomi signifikan bagi negara. Proyek percontohan di Mamuju ini juga dipandang sebagai langkah awal pembuktian kesiapan Indonesia menjadi pemain strategis dalam rantai pasok global mineral kritis.

“Target nilai hilirisasi di Indonesia itu, kalau kita hitung, seharusnya Indonesia bisa menangkap hingga 7,42 miliar dolar AS pada 2030 dari industri rare earth maupun turunannya,” pungkas Brian.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Bagikan Artikel: