Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BRIN Himbau Masyarakat untuk Tidak Mandi: Waspada Efek Insiden Sungai Cisadane

BRIN Himbau Masyarakat untuk Tidak Mandi: Waspada Efek Insiden Sungai Cisadane Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan dampak insiden pencemaran dari Sungai Cisadane. Lembaga itu memperingatkan bahwa masyarakat untuk tak beraktivias seperti mandi hingga mencuci menyusul ancaman zat kimia yang tercampur dengan air.

Periset Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa menjelaskan bahwa pencemaran tersebut berisiko memicu bioakumulasi dan biomagnifikasi, yakni proses penumpukan residu pestisida atau metabolit beracun dalam jaringan organisme air yang kemudian berpindah ke predator tingkat lebih tinggi, termasuk manusia.

Baca Juga: Prabowo Akan Rombak Dana Desa, Ini Alasannya

“Risiko ini membuat pencemaran tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek kesehatan kronis,” ujar Ignasius dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (15/2).

Ia menjelaskan bahwa kontaminan kimia tidak hanya berada di air permukaan, tetapi juga dapat mengendap di sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang. Kondisi ini membuat ancaman toksik tetap ada meskipun air sungai terlihat kembali jernih.

“Dalam kondisi tertentu, racun yang tersimpan di sedimen bisa kembali terlepas ke kolom air,” katanya.

Risiko Paparan ke Masyarakat

Ignasius juga menuturkan bahwa paparan pestisida dapat terjadi secara langsung, seperti melalui aktivitas mandi dan mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air baku atau ikan yang telah terkontaminasi.

Ia menyebut sejumlah jenis pestisida, terutama yang bersifat neurotoksik, dapat menimbulkan gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf hingga kematian, tergantung tingkat paparan.

“Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi memicu gangguan endokrin, kerusakan organ, bahkan meningkatkan risiko karsinogenik,” ujarnya.

Rekomendasi Penanganan

Untuk mitigasi jangka pendek, pemerintah merekomendasikan penutupan sementara intake air baku dalam zona terdampak, peningkatan pemantauan kualitas air secara real-time, serta edukasi cepat kepada masyarakat agar tidak menggunakan air sungai hingga dinyatakan aman.

Selain itu, upaya netralisasi atau remediasi in-situ perlu dilakukan apabila sumber pencemaran masih dapat diidentifikasi.

Dalam jangka panjang, ia menekankan pentingnya penguatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air online, serta diversifikasi sumber air baku guna meningkatkan ketahanan air saat terjadi krisis.

Restorasi ekosistem sungai melalui rehabilitasi zona riparian juga dinilai krusial untuk meningkatkan kemampuan alami sungai dalam menyaring polutan.

Baca Juga: BUMI Sepekan ke Depan, Masih Lanjut Reli?

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi pemerintah serta PDAM. Jangan menggunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan aman. Hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak selama masa krisis,” kata Ignasius.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: