Bukan Meteor, BRIN Pastikan Objek Terang di Lampung dan Banten Sisa Roket China
Kredit Foto: BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan fenomena objek terang yang melintas di langit Lampung dan Banten pada Minggu (5/4) malam merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar.
Peneliti Ahli Utama Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan objek tersebut terlihat mencolok karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, sehingga mengalami gesekan hebat dengan udara dan memancarkan cahaya terang.
“Objek terang yang terlihat di langit itu adalah pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” jelas Thomas dalam keterangan resmi, Minggu (5/4/2026).
Berdasarkan data pelacakan dari Space-Track dan analisis orbit, sisa roket tersebut melintas dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatera. Pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggian objek turun hingga di bawah 120 kilometer, memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat.
Pada fase tersebut, hambatan udara meningkat tajam sehingga objek kehilangan kecepatan dan ketinggian secara signifikan. Gesekan intens memicu panas tinggi yang menyebabkan benda terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum jatuh ke permukaan Bumi.
Thomas menyebutkan pecahan kemungkinan besar jatuh di wilayah hutan atau laut, sehingga kecil kemungkinan berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Ia menambahkan, fenomena jatuhnya sampah antariksa bukan hal yang jarang terjadi secara global, namun kejadian yang dapat diamati langsung dari wilayah Indonesia tergolong jarang. Peristiwa serupa terakhir terjadi pada 2022, ketika objek sejenis terlihat di Lampung dan jatuh di Sanggau, Kalimantan Barat.
Lebih lanjut, Thomas menegaskan bahwa fenomena ini umumnya tidak membahayakan. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.
Risiko baru muncul apabila ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh ke wilayah permukiman. Namun, hingga saat ini belum ada catatan kejadian yang menimbulkan dampak langsung terhadap manusia.
Baca Juga: BRIN Mulai Siapkan Teknologi 6G di Indonesia
Baca Juga: BRIN Peringatkan Super El Nino 2026 Ancam Ketahanan Pangan, Kemarau Ekstrem hingga Oktober
Menurut dia, penyebab utama jatuhnya sampah antariksa adalah hambatan udara di orbit rendah. Roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.
BRIN mengimbau masyarakat tetap tenang apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Selain merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global, kejadian ini juga dinilai sebagai momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait:
Advertisement