Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Masih Kalah dari Vietnam dan Thailand untuk Tingkat Adopsi Mobil Listrik di Asia Tenggara

Indonesia Masih Kalah dari Vietnam dan Thailand untuk Tingkat Adopsi Mobil Listrik di Asia Tenggara Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri otomotif Thailand mendesak pemerintah untuk segera mempercepat kebijakan non-moneter guna merangsang permintaan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), termasuk battery electric vehicle (BEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).

Para pelaku industri menilai, pertumbuhan sektor EV ke depan tidak cukup hanya bergantung pada insentif finansial seperti subsidi dan pemotongan pajak. Diperlukan juga kebijakan pendukung lain yang mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Dikutip dari Bangkok Post, mantan Presiden Electric Vehicle Association of Thailand (EVAT), Krisda Utamote, mengusulkan sejumlah langkah strategis.

Di antaranya memperluas jaringan pengisian daya publik, memberikan akses khusus bagi EV di jalur tertentu, menyediakan parkir prioritas, meningkatkan standar keselamatan baterai, serta memperketat regulasi emisi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).

Baca Juga: Indonesia-Malaysia Disebut Bakal Jadi Pemain Besar Rantai Pasokan Mobil Listrik di Asia Pasifik

"Langkah-langkah non-moneter ini akan membantu mengurangi beban fiskal pemerintah dalam jangka panjang, menekan polusi debu ultra-halus PM2.5, dan mendukung transisi Thailand menuju industri hijau,” ujar Krisda.

EVAT meyakini kebijakan tersebut akan mendorong lebih banyak konsumen beralih ke BEV dan PHEV, sehingga berdampak pada peningkatan penjualan kendaraan secara keseluruhan. Asosiasi itu berencana menyampaikan proposal resmi kepada Dewan Kebijakan Kendaraan Listrik Nasional setelah pemerintahan baru terbentuk.

Selama ini, Thailand sangat bergantung pada skema insentif seperti program “EV3.0” dan “EV3.5”, yang menawarkan pengurangan pajak dan subsidi kepada produsen kendaraan listrik dengan syarat melakukan investasi perakitan BEV di dalam negeri.

Selain kebijakan sektor otomotif, pelaku industri juga menyoroti pentingnya perbaikan kondisi ekonomi secara luas.

Direktur Pelaksana Hyundai Mobility Thailand, Wallop Chalermvongsavej, menilai pemerintah perlu fokus pada peningkatan pendapatan rumah tangga serta pengurangan beban utang masyarakat untuk memulihkan kepercayaan konsumen.

"Jika ekonomi membaik, masyarakat akan merasa lebih aman untuk berbelanja, dan itu akan berdampak pada peningkatan penjualan kendaraan,” katanya.

Hyundai memperkirakan penjualan mobil domestik Thailand pada 2026 akan mencapai 620.000 unit, mencakup kendaraan ICE dan BEV. Namun, penjualan mobil penumpang BEV tahun ini diproyeksikan turun menjadi di bawah 120.000 unit, dari 120.301 unit pada 2025, berdasarkan data Federation of Thai Industries.

Secara global, penjualan BEV mencapai 20 juta unit pada 2025, yang sebagian besar didorong oleh merek-merek asal Tiongkok.

Di kawasan Asia Tenggara, Thailand menjadi salah satu pemimpin adopsi EV, dengan pangsa BEV mencapai 21 persen dari total penjualan mobil penumpang baru pada 2025. Vietnam memimpin dengan 38 persen, sementara Indonesia berada di angka 15 persen.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Bagikan Artikel: