Dampak Perang Iran di Luar Dugaan, Tim Energi Trump Disebut Harus Cari Cara untuk Menekan Harga Minyak
Kredit Foto: Reuters
Paul Musgrave, profesor pemerintahan di Georgetown University Qatar, mengamati respons Washington terhadap krisis energi yang kini memukul pasar global.
Mengutip CNN, ia menyebut tim Trump tampaknya berpikir Iran hanya menggertak. "Semua indikasi menunjukkan mereka benar-benar percaya Iran tidak akan bertindak sejauh ini," ujarnya.
Kalkulasi yang meleset itu kini berubah menjadi krisis domestik di Amerika Serikat. Melansir Politico, meski pejabat senior Trump sudah memperkirakan akan ada lonjakan harga minyak singkat di awal konflik, besarnya lonjakan dan lamanya harga bertahan membuat mereka lengah.
Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, dua arsitek utama agenda energy dominance Trump, kini disebut Politico sedang berjuang keras membendung gelombang inflasi yang dipicu energi dan berisiko gagal menangani krisis energi terbesar di masa jabatan kedua Trump.
Keduanya berupaya meminimalkan kekhawatiran publik dengan menyalahkan trader minyak yang dinilai menaikkan harga secara tidak rasional.
Dampak paling langsung dirasakan di pompa bensin. Melansir CNN, harga bensin nasional AS naik 51 sen per galon, setara sekitar Rp8.313, hanya dalam sepekan, lonjakan yang langsung menyentuh jutaan pengemudi Amerika setiap hari.
Wright berusaha menenangkan situasi dengan menyebut gangguan ini tidak akan berlangsung lama. "Ini hitungan minggu, bukan bulan," katanya di CNN.
Trump memberi pernyataan berbeda di Truth Social, "Harga minyak jangka pendek adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keamanan dan perdamaian AS dan dunia. HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA!"
Wall Street tidak setenang itu. Melansir CNN Business, Goldman Sachs memperingatkan kliennya bahwa inflasi AS bisa kembali ke 3 persen tahun ini jika perang berkepanjangan dan harga minyak terus bertahan tinggi. Hitungan ini berbeda dengan proyeksi sebelumnya yang memperkirakan inflasi melandai ke 2 persen.
Harga tiket pesawat, biaya transportasi, bahan makanan, hingga produk berbasis plastik semuanya masuk dalam daftar yang terancam naik.
Risiko itu tidak kecil secara politis. Sebab, salah satu faktor utama kemenangan Trump di pemilu 2024 adalah tersandungnya Biden oleh krisis biaya hidup yang dipicu lonjakan energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina dan kini dinamika serupa mulai terbentuk di bawah pemerintahannya sendiri.
Melansir CNN Politics, pemerintah Trump tengah mengeksplorasi sejumlah opsi darurat, yaitu melonggarkan pembatasan Jones Act untuk memperlancar aliran minyak domestik, mempertimbangkan kontrol harga, hingga kemungkinan intervensi langsung treasury di pasar futures minyak.
Penggunaan Strategic Petroleum Reserve yang sebelumnya ditolak keras kini juga mulai masuk pertimbangan.
Pada Rabu, 11 Maret, negara-negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel dari cadangan darurat mereka sebagai intervensi terbesar dalam sejarah lembaga itu. AS berencana melepas 172 juta barel dari cadangan strategisnya dalam 120 hari ke depan, sebelum mengisi ulang sekitar 200 juta barel dalam setahun berikutnya.
Baca Juga: Israel Akan Gulingkan Rezim Mojtaba Khamenei di Iran
"Iran telah mengganggu kehidupan di kawasan ini. Mereka tidak meratakan Doha atau Dubai, tapi mereka benar-benar menepati janji yang berulang kali mereka buat dengan lantang sebelum permusuhan dimulai," ujar Musgrave.
Sementara itu, Indonesia mengandalkan asumsi harga minyak $70 per barel atau setara Rp1.141.000 dalam APBN 2026, sedangkan harga aktual terus di atas Rp1.630.000 per barel. Perhitungan ini tentu membuat posisi Indonesia tertekan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: