Kredit Foto: Azka Elfriza
Standard Chartered Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,2%–5,3% pada 2026, meningkat dari realisasi 5,1% pada tahun sebelumnya. Indonesia bahkan dinilai menjadi salah satu bright spot di kawasan ASEAN di tengah perlambatan ekonomi global.
Chief Executive Officer Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, mengatakan proyeksi tersebut ditopang ketahanan domestik yang kuat, harga komoditas yang suportif, percepatan belanja APBN, serta reformasi struktural Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kalau kita lihat, Indonesia is one of the bright spot di ASEAN. Jadi we expect GDP growth in Indonesia to pick up dari 5,1% tahun lalu menjadi 5,2%–5,3% di tahun ini. Bisa lebih, ada upside potensi di sana, tapi juga ada risk-nya,” ujarnya dalam agenda OJK Institute Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Meski demikian, ia menegaskan pertumbuhan Indonesia tetap dipengaruhi dinamika global, termasuk perdagangan internasional dan harga komoditas.
“Dan itu bergantung dengan beberapa faktor karena memang Indonesia juga depends on global trade, demand dari global buat ekspor kita, commodity prices, dan lain-lain,” katanya.
Baca Juga: Bos BI Ungkap Tiga Kunci Dorong Ekonomi Indonesia
Dari sisi investasi, Donny melihat peluang tetap terbuka. Menurutnya, likuiditas di pasar modal global tidak berkurang dan investor masih mencari destinasi penanaman modal langsung (foreign direct investment/FDI) yang prospektif.
“Global capital markets of the world itu kan uangnya tidak berubah, tetap ada,” ujarnya.
Sebagai CEO salah satu bank global, ia menilai Indonesia memiliki daya tarik struktural yang kuat.
“Indonesia punya appeal yang sebenarnya sangat luar biasa kalau lihat dari inherent advantage-nya Indonesia dengan size, bonus demografi, kemudian natural resources,” katanya.
Terlebih, program hilirisasi 28 komoditas di delapan sektor dinilai memiliki nilai jual tinggi dan sulit menemukan pembandingnya di kawasan.
“Kalau kita lihat program pemerintah, 28 hilirisasi sektor komoditas di delapan sektor Indonesia punya nilai jual yang sebenarnya sangat besar sekali,” pungkasnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Didorong Tumbuh 6%, Belanja Rp809 Triliun Dikucurkan
Meski begitu, Donny menekankan pentingnya kepastian dan konsistensi kebijakan. Investor asing, menurutnya, telah memperhitungkan risiko politik ketika berinvestasi di negara berkembang.
“Menurut saya konsistensi dari policy itu yang mungkin menjadi tolok ukur yang paling utama,” ujarnya.
“Foreign investor itu sudah price-in political risk. Investing into emerging markets bukanlah tanpa risiko, dan mereka juga tahu,” lanjutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri