Kredit Foto: PLN
Kondisi ini menciptakan tren baru dalam penyediaan tenaga listrik nasional, di mana industri hilirisasi menjadi penggerak utama. Kebutuhan daya yang sangat besar dan tuntutan kecepatan operasional membuat pengelola kawasan memutuskan untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sendiri.
"Nah inilah yang kemudian menjadi fenomena baru dalam penyediaan tenaga listrik kita bahwa apa yang terjadi di industri hilirisasi ini menjadi apa namanya penggerak baru begitu yang kemudian mereka dengan kebutuhan energi yang besar dan butuh cepat akhirnya mereka memutuskan untuk membuat PLTU," paparnya.
Kementerian ESDM kini tengah menyiapkan strategi transisi untuk mengimbangi dominasi fosil di kawasan industri tersebut melalui percepatan EBT dan opsi energi baru. Hal ini krusial mengingat saat ini sekitar 52% atau hampir 13 GW listrik dari total 26,2 GW kapasitas captive power nasional masih bersumber dari batubara.
Baca Juga: Gandeng Pertamina Group, Elnusa Perluas Portofolio Energi Rendah Karbon
Pemerintah juga berencana melakukan evaluasi regulasi dan memperketat pengawasan bauran energi hijau pada wilayah-wilayah usaha industri berskala gigawatt tersebut. Langkah ini diambil agar akselerasi ekonomi dari hilirisasi tetap sejalan dengan target dekarbonisasi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat