Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Industri Keuangan Amerika Serikat Waspadai Ancaman Hacker Iran

Industri Keuangan Amerika Serikat Waspadai Ancaman Hacker Iran Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat (AS) meningkatkan status kewaspadaan terhadap potensi serangan siber di tengah eskalasi perang antara Washington dan Teheran. Salah satu yang menjadi perhatian adalah industri keuangan dari Negeri Paman Sam.

Direktur Pelaksana Securities Industry and Financial Markets Association, Todd Klessman mengatakan industri finansial tetap siaga menghadapi berbagai potensi ancaman, termasuk potensi serangan siber dari Iran.

Baca Juga: Tolak Dukung Serangan ke Iran, Spanyol Terancam Embargo Amerika Serikat (AS)

“Industri tetap waspada dan siap merespons ancaman siber setiap saat, terutama ketika risiko keamanan global meningkat,” ujar Klessman, dikutip dari Reuters.

Ia menyebut perusahaan-perusahaan keuangan memperketat pemantauan sistem digital mereka karena ancaman siber cenderung meningkat selama periode konflik geopolitik.

Sektor keuangan selama ini dianggap sebagai infrastruktur kritis, mencakup sistem pembayaran, kliring dan penyelesaian transaksi, platform perdagangan hingga pasar obligasi pemerintah. Posisi strategis tersebut menjadikannya target utama dalam serangan siber.

Klessman menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga ketahanan operasional guna memastikan integritas dan stabilitas pasar modal dari Amerika Serikat.

Risiko serangan siber kini dipandang sangat mungkin terjadi, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini juga menyusul laporan intelijen menyebut kelompok “hacktivist” berpotensi melancarkan serangan siber tingkat rendah terhadap jaringan di Negeri Paman Sam.

Salah satu bentuk serangan yang dikhawatirkan adalah distributed denial-of-service (DDoS), yakni metode membanjiri server target dengan lalu lintas internet dalam jumlah besar hingga sistem lumpuh.

Meski serangan semacam ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan permanen, gangguan terhadap sistem pembayaran atau pasar keuangan dapat memicu kepanikan dan volatilitas pasar.

Baca Juga: China Hubungi Menlu Israel, Tuntut Adanya Gencatan Senjata Dengan Iran

Ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan ini juga berpotensi berdampak pada pasar global, termasuk Indonesia. Pasar modal domestik dan nilai tukar rupiah kerap sensitif terhadap gejolak eksternal, terutama jika menyangkut sistem keuangan dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Bagikan Artikel: