Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Indonesia Cari Minyak ke Brunei, Brunei Justru Minta Belajar Teknologi EOR dari Pertamina

Indonesia Cari Minyak ke Brunei, Brunei Justru Minta Belajar Teknologi EOR dari Pertamina Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Brunei Darussalam dikenal sebagai negara pengekspor minyak, sementara Indonesia saat ini menghadapi tantangan keterbatasan pasokan minyak. Namun demikian, dalam Forum Energi Indo-Pasifik yang diselenggarakan di Tokyo pada Minggu, 15 Maret, perwakilan Brunei justru menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari teknologi dari Indonesia.

Deputy Minister of Energy Brunei Darussalam, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah, secara langsung menyampaikan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, bahwa negaranya berminat pada teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang telah dikembangkan oleh Pertamina.

"Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding, dan kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," ujar Azmi dikutip dari ANTARA.

Di sisi lain, Bahlil datang ke Tokyo dengan misi yang berbeda: mencari sumber minyak alternatif di tengah krisis Selat Hormuz. Cadangan BBM Indonesia hanya bertahan 20-23 hari, jauh di bawah standar IEA yang mewajibkan anggotanya menyimpan cadangan minimal 90 hari.

Angka itu mencerminkan masalah struktural yang sudah lama menghantui Indonesia. Dikutip dari Pertamina, permintaan minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, hampir tiga kali lipat dari kemampuan produksi Pertamina yang hanya sekitar 400.000 barel per hari.

Indonesia bahkan masih mengekspor 40 persen minyak mentahnya karena perbedaan spesifikasi yang tidak cocok untuk kilang dalam negeri.

Melansir Indonesian Petroleum Association, produksi minyak nasional hanya mencapai 605.000 barel per hari di 2025, sementara konsumsi harian BBM nasional mencapai 232.417 kiloliter dengan produksi domestik hanya mampu menyuplai 81.083 kiloliter per hari.

Selisih itulah yang harus ditutup dari impor dan Brunei menjadi salah satu kandidat pemasok yang diincar.

"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong. Sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," ujar Bahlil.

Brunei punya minyak, tapi produksinya terus menyusut. Melansir Energy Intelligence, produksi minyak mentah Brunei hanya 84.000 barel per hari di semester pertama 2025  anjlok dari puncaknya yang pernah menyentuh 500.000 barel per hari di era 1970-an.

Cadangan minyak Brunei diperkirakan hanya tersisa 1,1 miliar barel, sementara sektor energi masih menyumbang 46,7 persen dari total GDP Brunei yang mencapai BND 20,7 miliar atau sekitar Rp248,4 triliun pada 2024.

Untuk menggenjot produksi dari ladang-ladang tua itulah Brunei melirik EOR Indonesia. Ironisnya, keahlian itu lahir justru karena kondisi Indonesia yang sekitar 70 persen sumur minyaknya sudah tua, memaksa Pertamina dan ekosistem industri hulu migas mengembangkan teknologi ini lebih dalam dari banyak negara produsen lain.

PT Elnusa bersama Pertamina kini mengembangkan Chemical EOR dan Vibroseis EOR, teknologi yang dirancang untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan mature. Pilot project Chemical EOR sudah berjalan di Blok Kepala Burung.

Baca Juga: Stok BBM dan LPG Bandung Raya Aman Jelang Lebaran 2026, Cadangan di Depo Padalarang Tembus di Atas 10 Hari

Bahlil menyambut ketertarikan Brunei dengan antusias. "Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis. Nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ujarnya.

Dari satu pertemuan di Tokyo, Indonesia mendapat calon pemasok minyak yang dekat secara geografis dan tidak bergantung pada Selat Hormuz, sementara Brunei mendapat akses ke teknologi yang berpotensi menggandakan produksi ladang-ladang tuanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat