Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemprov DKI Jakarta Terapkan WFA Terbatas bagi ASN Usai Libur Lebaran

Pemprov DKI Jakarta Terapkan WFA Terbatas bagi ASN Usai Libur Lebaran Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan akan menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), sejalan dengan arahan pemerintah pusat dalam rangka efesiensi energi atas dinamika yang terjadi di Timur Tengah.

Kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pelaksanaan Tugas Kedinasan Bagi Pegawai Aparatur Sipil Negara di Instansi Pemerintah Pada Masa Libur Nasional dan Cuti Bersama Hari Suci Nyepi (Tahun Baru Saka 1948) dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa pelaksanaan WFA ini dilakukan secara terbatas, yakni maksimal 50 persen pegawai yang diizinkan bekerja dari luar kantor.

Pemberian izin WFA tersebut juga bersifat selektif karena harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi serta kondisi masing-masing pegawai.

"Masih ada dua hari lagi pelaksanaan itu sesuai dengan SE Gubernur. ASN yang belum in-charge secara langsung di kantor dapat memanfaatkan kebijakan ini," tandas Pram.

Pemerintah memastikan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) akan mulai diterapkan setelah Lebaran sebagai bagian dari upaya penghematan energi di tengah kenaikan harga minyak dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kebijakan tersebut akan berlaku bagi aparatur sipil negara (ASN) serta diimbau untuk diikuti oleh sektor swasta, kecuali layanan publik.

"WFH akan didetailkan, tetapi sesudah Lebaran kita akan berlakukan. Untuk ASN maupun imbauan untuk swasta, tetapi tidak untuk sektor pelayanan publik," kata Airlangga usai salat Idulfitri di Jakarta, Sabtu.

Sebagai informasi, krisis energi yang mendorong melambungnya harga minyak dunia saat ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Ketegangan tersebut berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok dan jalur distribusi energi global, khususnya di kawasan perairan Selat Hormuz.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat