Waspada Perang, Kapal Survei China Diam-diam Masuki Wilayah Jepang
Kredit Foto: Reuters
Penjaga Pantai Jepang melaporkan adanya pelanggaran wilayah oleh kapal riset atau survei milik dari China. Hal tersebut membuat semakin panas hubungan kedua negara di Asia.
Jepang mengatakan bahwa kapal tersebut beroperasi di dalam zona ekonomi eksklusif (EEZ) dalam perairan dari Uotsuri Island. Ia merupakan bagian dari gugusan pulau yang diperebutkan kedua negara di Laut China Timur.
Baca Juga: China Kecam Politisi Jepang: Isu Taiwan Adalah Garis Merah
Menurut Jepang, kapal riset tersebut diketajui bernama Xiang Yang Hong 22. Ia terlihat menurunkan peralatan penelitian ke laut, termasuk pipa dan kabel dari badan kapal. Aktivitas ini diduga merupakan penelitian ilmiah kelautan hingga mapping dasar laut yang dilakukan tanpa persetujuan dari Tokyo.
"Xiang Yang Hong 22 terlihat sekitar pukul 13.30, Ia berada sekitar 37 mil laut (69 km) dari Pulau Uotsuri. Kapal itu terlihat mengulurkan peralatan berbentuk pipa dari kedua sisi kapal dan peralatan berbentuk kawat dari buritannya ke laut," kata Jepang.
Penjaga Pantai Jepang sendiri kemudian mengirim peringatan melalui radio agar kapal tersebut menghentikan kegiatan. Ia menyatakan akan terus memantau aktivitas kapal dari China.
Adapun Pulau Uotsuri dikenal sebagai titik panas sengketa antara Jepang dan China. Tokyo menyebutnya Kepulauan Senkaku Islands. Sementara Beijing menyebutnya Diaoyu. Kedua negara telah lama bersitegang dalam kawasan tersebut, termasuk melalui patroli kapal penjaga pantai dan manuver diplomatik.
Sebelumnya, hubungan kedua negara juga panas terkait dengan pemberian sanksi oleh Beijing ke Politisi Japan, Keiji Furuya. Ia diketahui diberi sanksi karena dianggap mendukung kemerdekaan dari Taiwan.
Beijing menyebut sanksi yang dijatuhkan sebagai langkah hukum untuk memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang dianggap melanggar kedaulatan China. Sanksi ini mencakup larangan masuk serta pembekuan aset yang dimiliki di negara tersebut.
Furuya sendiri menanggapi sanksi tersebut dengan menyatakan bahwa kunjungan merupakan bagian dari tugasnya sebagai anggota kelompok parlemen yang menghubungkan politikus dari Taiwan dan Jepang.
Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa ia tidak memiliki aset di China. Furuya juga menyinggung bahwa dirinya sudah lama tidak mengunjungi negara tersebut.
Sanksi ini menambah ketegangan dalam hubungan bilateral antara China dan Jepang. Hubungan keduanya diketahui memburuk akibat pernyataan kontroversial dari Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Takaichi sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya dapat merespons secara militer jika terjadi serangan dari China ke Taiwan. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing.
Jepang juga berencana menurunkan status hubungan diplomatiknya dengan China. Hal ini diketahui melalui laporan tahunan di Japan Diplomatic Bluebook 2026.
Baca Juga: Amerika Serikat dan Sekutu Kembali Tekan Ukraina, Minta Kurangi Serangan ke Minyak Rusia
Tokyo sebelumnya menyebut negara tetangganya itu sebagai salah satu mitra paling penting. Nantinya, China hanya akan dilihat sebagai tetangga penting dengan hubungan yang bersifat strategis dan saling menguntungkan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement