Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Strategi Hemat BBM dan BBG Tanpa Mengurangi Produktivitas

Strategi Hemat BBM dan BBG Tanpa Mengurangi Produktivitas Kredit Foto: Unsplash/Mufid Majnun
Warta Ekonomi, Surabaya -

Upaya penghematan bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (BBG) tidak selalu sama dengan pembatasan aktivitas ekonomi. Pendekatan efisiensi justru dinilai mampu menjaga, bahkan meningkatkan, produktivitas asalkan dilakukan secara terukur dan berbasis kebutuhan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah, menekankan bahwa konsep hemat energi lebih pada kecerdasan dalam penggunaan.

“Artinya, dengan ketersediaan yang ada, mampu mengoptimalkan antara biaya dan manfaat dengan dukungan mitigasi risiko yang baik, mengoptimalkan sistem digital, dan menciptakan sistem yang tertata lebih rapi,” katanya.

Pada skala rumah tangga, langkah efisiensi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti penggunaan listrik sesuai kebutuhan, pemilihan perangkat elektronik berdaya rendah, hingga pengelolaan konsumsi gas secara efektif. Selain itu, perencanaan penggunaan BBM untuk mobilitas harian juga menjadi faktor penting, termasuk mempertimbangkan jarak, akses jalan, dan urgensi aktivitas.

Pendekatan ini membuat alokasi energi menjadi lebih tepat sasaran tanpa mengurangi produktivitas. Ke depan, pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya di tingkat rumah tangga dinilai berpotensi untuk dikembangkan dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam bentuk subsidi bertahap.

Pada level industri, prinsip efisiensi diterapkan dalam skala yang lebih besar. Penggunaan energi perlu direncanakan berdasarkan prioritas produksi dan target pendapatan. Optimalisasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan, turut berperan dalam menekan biaya sekaligus meningkatkan kualitas output.

Efisiensi juga dapat diperkuat melalui desain sistem produksi dan pencahayaan modern yang hemat energi. Di sisi lain, inovasi energi non-fosil, seperti tenaga surya, air, angin, dan sumber kinetik, mulai menjadi alternatif strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional.

Dalam konteks yang lebih luas, peran pemerintah menjadi krusial melalui pembangunan infrastruktur transportasi yang efisien.

“Pemerintah perlu memperbaiki infrastruktur jalan darat yang rusak secara berkala untuk mengurangi kebutuhan BBM kendaraan. Semakin tidak bagus jalan, semakin banyak energi yang dikeluarkan, dan itu berbiaya,” ujar Ciplis.

Ciplis juga menilai pengembangan jalur tol serta peningkatan moda transportasi laut dan udara akan mampu menekan konsumsi BBM sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemerintah juga didorong untuk membangun sistem data transportasi dan distribusi yang terintegrasi guna meningkatkan efisiensi arus barang dan jasa antarwilayah. Upaya mitigasi risiko bencana turut menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran jalur distribusi.

Seiring dengan potensi menipisnya energi fosil, percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan menjadi kebutuhan strategis. Kebijakan konversi energi dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Jawa Timur, Edi Purwanto, menegaskan bahwa efisiensi energi tidak berkaitan dengan pengurangan aktivitas.

“Namun lebih pada upaya untuk meminimalisasi potensi pemborosan dalam suatu aktivitas dengan cara melakukan efisiensi, memiliki skala prioritas, dan lebih terukur,” katanya.

Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain melakukan substitusi energi dari BBM ke listrik atau gas, mengatur waktu operasional industri, serta melakukan perawatan rutin mesin produksi. Selain itu, evaluasi sistem transportasi dan logistik menjadi kunci karena sektor ini menyerap energi dalam jumlah besar.

Baca Juga: Pertamina Pastikan Harga BBM Tidak Naik per 1 April, Masyarakat Diminta Tak Panic Buying

Digitalisasi juga menjadi solusi penting, terutama dalam mengurangi mobilitas fisik yang tidak perlu. Pemanfaatan pertemuan daring dinilai mampu menjaga produktivitas tanpa meningkatkan konsumsi energi.

Berdasarkan gambaran kebutuhan energi, beban terbesar rumah tangga masih berasal dari sektor transportasi. Konsumsi BBM harian per rumah tangga berada pada kisaran 3 hingga 12 liter, sementara listrik dan BBG cenderung lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi yang paling berdampak terletak pada pengelolaan mobilitas.

Dengan pendekatan terintegrasi dari rumah tangga, industri, hingga kebijakan pemerintah, efisiensi energi dapat menjadi solusi untuk menjaga produktivitas ekonomi sekaligus menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya energi di masa depan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Mochamad Ali Topan
Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement