- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Harga Patokan Mineral Bayangi Bisnis Feronikel Antam, Penjualan Anjlok 46%
Kredit Foto: Istimewa
Di tengah rekor pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 106% pada 2025, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) justru menghadapi tantangan pelik pada lini bisnis feronikel (FeNi).
Kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM) dan penyesuaian regulasi hilirisasi mineral dilaporkan menjadi faktor utama yang menghambat performa komersial perusahaan sepanjang tahun lalu.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, mengakui bahwa tekanan pada lini bisnis feronikel tidak terlepas dari dinamika kebijakan domestik. Menurutnya, penetapan harga yang diatur dalam HPM berdampak langsung pada daya serap pasar dan fleksibilitas penjualan produk feronikel perusahaan.
"Namun demikian, feronikel menghadapi tantangan terutama akibat keterbatasan penjualan yang dipengaruhi kebijakan harga patokan mineral atau HPM," ujar Untung Budiharto secara terbuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Senin (13/4/2026).
Berdasarkan data operasional audited 2025, hambatan regulasi tersebut memberikan dampak koreksi yang signifikan bagi Antam. Lini bisnis feronikel mencatatkan penurunan volume produksi sebesar 20% menjadi 16.064 ton nikel dalam feronikel (tni), dibandingkan capaian 2024 yang mencapai 20.103 tni.
Kondisi lebih menantang terlihat pada sisi komersial. Volume penjualan feronikel Antam anjlok hingga 46% secara tahunan (year-on-year/yoy), di mana perusahaan hanya mampu menjual 10.528 tni sepanjang 2025, jauh di bawah volume penjualan 2024 yang mencapai 19.452 tni. Ketidaksesuaian antara biaya produksi dan harga jual yang dipengaruhi kebijakan HPM dinilai mempersempit ruang gerak perseroan untuk berkompetisi di pasar.
Hambatan Regulasi Baru
Selain persoalan harga, Antam kini dibayangi oleh implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2025. Regulasi ini membawa tantangan baru bagi proyek hilirisasi mineral karena mensyaratkan batasan produk tertentu bagi pemohon izin smelter nikel baik jalur Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) maupun High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Dalam materi yang dipaparkan, Antam menyoroti bahwa kebijakan tersebut memerlukan penyesuaian agar tidak mengganggu kesinambungan investasi pada proyek strategis nasional yang sedang berjalan.
"Diperlukan penyesuaian terhadap penerapan kebijakan khususnya kebijakan yang berdampak pada proyek strategis nasional yang telah memasuki tahap konstruksi agar kesinambungan investasi dan kepastian usaha tetap terjaga," tegas Antam dalam dokumen tertulis dukungan yang dibutuhkan dari Komisi XII DPR RI.
Outlook Produksi 2026
Meskipun dihimpit berbagai hambatan regulasi, Antam tetap menargetkan pemulihan operasional pada 2026. Perseroan mematok target produksi feronikel sebesar 18,4 ribu tni, atau tumbuh 14% dibandingkan realisasi 2025.
Optimisme ini didukung oleh rencana ekspansi di sektor hulu, di mana Antam menargetkan produksi bijih nikel melonjak 33% menjadi 24,4 juta wet metric ton (wmt) pada 2026. Langkah ini diambil sebagai strategi integrasi untuk mengamankan bahan baku internal dan menurunkan beban biaya di tengah ketidakpastian kebijakan harga hilir.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement