Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) tengah mematangkan kerangka fiskal, untuk mendukung percepatan proyek Carbon Capture Storage (CCS) di Lapangan Arun.
Kepala BPMA Nasri Djalal menyatakan, investasi pada teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon memiliki peluang besar untuk masuk dalam skema pengembalian biaya operasi (cost recovery), sepanjang proyek tersebut terintegrasi dengan upaya peningkatan produksi migas.
Pernyataan ini menjadi sinyal positif bagi investor, mengingat tingginya biaya investasi pada teknologi dekarbonisasi.
Nasri menekankan, implementasi CCS tidak hanya berfungsi menekan emisi emisi gas rumah kaca, tetapi juga memiliki nilai komersial melalui mekanisme Enhanced Gas Recovery (EGR).
“Secara komersial, CCS juga punya nilai jual."
"Kalau program CCS ini dapat meningkatkan produksi, tentu saja biayanya dapat di-cost recovery-kan."
"Kita harapkan cairan (karbon) yang diinjeksi ke bawah mampu menaikkan pressure, sehingga produksi minyak dan gas meningkat,” ujar Nasri di KESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Dari sisi kesiapan geologi, Lapangan Arun disebut menempati posisi sebagai aset paling prospektif (ready) untuk implementasi CCS di Indonesia.
Berstatus sebagai lapangan gas raksasa yang telah mengalami penurunan cadangan (depleted) hingga 96%, Arun menawarkan integritas struktur reservoir yang masif dan stabil, untuk penyimpanan karbon dalam jangka panjang.
BPMA kini tengah mendorong PT PEMA Global Energi (PGE) selaku operator, untuk segera mengeksekusi pilot project injeksi karbon pada semester II tahun ini.
Proyek ini diproyeksikan menjadi pionir integrasi industri hulu-hilir.
Di mana, emisi karbon akan ditangkap dari pabrik pupuk PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), untuk kemudian diinjeksikan kembali ke reservoir di Blok Arun.
Kemitraan Teknologi Global
Guna memastikan aspek keamanan dan efisiensi teknologi, PGE telah menjalin kemitraan strategis dengan raksasa energi Jepang, JAPEX (Japan Petroleum Exploration Co, Ltd).
Pemilihan JAPEX didasarkan pada rekam jejak perusahaan tersebut, yang sukses mengimplementasikan teknologi serupa di beberapa blok migas global maupun domestik.
“Secara pengalaman, JAPEX sudah teruji dalam melakukan injeksi karbon."
"Kami ingin pilot project ini segera berjalan, untuk membuktikan potensi kenaikan produksi melalui tekanan reservoir yang dihasilkan dari injeksi tersebut,” tambah Nasri.
Baca Juga: Seluruh WK Migas Aceh ‘Sold Out’, BPMA Bidik Pembukaan Blok Baru
BPMA memproyeksikan, keberhasilan proyek CCS di Arun akan mengubah paradigma pengelolaan lapangan migas tua (brownfield) di Indonesia.
Dengan dukungan skema fiskal yang atraktif dan integrasi teknologi EGR, Lapangan Arun tidak hanya akan memperpanjang usia produktifnya, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat penyimpanan karbon (carbon hub) strategis di kawasan regional. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait:
Advertisement