Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mantan Pejabat Gedung Putih Sebut Trump Sebenarnya Ingin Hentikan Perang dengan Iran, Cuma Gengsi Disamakan dengan Obama

Mantan Pejabat Gedung Putih Sebut Trump Sebenarnya Ingin Hentikan Perang dengan Iran, Cuma Gengsi Disamakan dengan Obama Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, John Bolton, menuding Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah dilanda ketakutan dalam mengambil keputusan terkait krisis Iran.

Menjelang berakhirnya batas waktu gencatan senjata dua minggu, Bolton menyebut Trump takut membuat kesepakatan yang buruk karena gengsi dan tidak ingin terlihat seperti pendahulunya, Barack Obama.

Dikutip dari CNN pada Senin, Bolton mengungkapkan bahwa Trump sebenarnya sangat ingin segera menarik diri dari konflik ini.

Trump khawatir dengan dampak perang terhadap lonjakan harga energi, menyusul langkah Iran yang memblokir kapal-kapal ekspor di Selat Hormuz sejak konflik pecah, serta dampak politik yang menyertainya.

"Namun, dia takut jika tidak ada kesepakatan karena situasi akan terus berlanjut. Di sisi lain, dia juga takut membuat kesepakatan yang buruk karena itu akan membuatnya terlihat seperti Barack Obama," ujar Bolton.

"Dan hal ini bisa memicu perubahan suasana hati (mood swings), bisa dibilang begitu," tambahnya.

Komentar tersebut merujuk pada Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015 yang digagas pada era pemerintahan Obama.

Kesepakatan itu mewajibkan Iran menghentikan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi. Pada masa jabatan pertamanya di 2018, Trump secara sepihak menarik AS keluar dari perjanjian bersejarah tersebut.

Bolton memprediksi bahwa pemerintah Iran akan merasa "berada di atas angin" jika Trump memperpanjang batas waktu gencatan senjata.

Ia secara terbuka menyebut langkah perpanjangan itu sebagai sebuah "kesalahan". Bolton menyarankan pemerintahan Trump seharusnya "menghukum" Iran secara militer guna menghentikan manuver penutupan Selat Hormuz.

"Menurut saya, dorongan utama Trump saat ini adalah dia ingin segera keluar dan dia akan mencari jalan keluarnya," tambah Bolton.

"Saya rasa hasilnya akan mengecewakan, tapi dia akan tetap mendeklarasikan kemenangan dan berharap publik menerimanya. Itulah yang saya khawatirkan."

Sehari sebelumnya, Bolton juga sempat mengkritik potensi perpanjangan "jeda dua minggu" ini karena dinilai hanya memberi waktu bagi Iran untuk memulihkan diri, menyusun ulang kekuatan, dan bersiap menghadapi fase perang berikutnya.

"Kita tidak seharusnya memberi mereka kelonggaran sedikit pun," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: