Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Klaim Perang Hampir Berakhir, Iran Membantah: Drama Damai atau Manuver Baru?

Trump Klaim Perang Hampir Berakhir, Iran Membantah: Drama Damai atau Manuver Baru? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan mengklaim bahwa kesepakatan besar dengan Iran sudah berada di depan mata dan bahkan disebut bisa mengakhiri konflik yang selama ini memicu kekhawatiran dunia.

Namun, pernyataan optimistis dari Gedung Putih itu langsung mendapat respons berbeda dari Teheran. Iran justru menegaskan belum ada kesepakatan yang benar-benar selesai, sehingga memunculkan pertanyaan besar apakah perdamaian memang sudah dekat atau hanya sekadar manuver politik baru?

Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump mengaku membatalkan serangan dan menyatakan proses menuju penyelesaian konflik berjalan sangat positif. Ia bahkan menyebut tujuan utama Amerika Serikat telah tercapai.

"Kita telah mencapai kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang merupakan tujuan utama dari semua yang harus kita lalui untuk mencapai ini. Jadi, ini adalah hal yang sangat besar," katanya dikutip dari BBC. 

Trump mengatakan dokumen kesepakatan saat ini sudah memasuki tahap akhir dan hanya tinggal menunggu penyelesaian teknis sebelum ditandatangani.

"Mungkin akan ada penandatanganan, mungkin di Eropa setelah dokumen-dokumen tersebut diselesaikan, dan itu seharusnya dilakukan dengan cukup cepat," ujarnya. 

Baca Juga: 'Kesepakatan Besar Tercapai', Trump Akhirnya Bikin Iran Menyerah Soal Nuklir?

Menurut Trump, dokumen tersebut bahkan telah berada dalam tahap yang hampir final.

"Dokumen-dokumen tersebut sudah dalam bentuk yang cukup final jadi kita lihat saja nanti."

Tak hanya itu, Trump juga mengaitkan kesepakatan tersebut dengan kondisi jalur perdagangan energi dunia yang sempat terganggu akibat konflik.

Trump juga mengatakan, "Selat Hormuz akan dibuka segera setelah kita menandatanganinya."

Ia mengungkapkan telah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut Trump, berbagai pihak di Timur Tengah menyambut baik perkembangan tersebut.

"Seluruh Timur Tengah sangat gembira."

Meski demikian, optimisme dari Washington tidak sepenuhnya mendapat sambutan serupa dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menepis kabar bahwa kesepakatan sudah benar-benar tercapai.

Menurutnya, berbagai laporan yang beredar saat ini masih terlalu dini untuk dianggap sebagai keputusan final.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa laporan tentang kesepakatan tersebut bersifat "spekulatif" dan "belum ada yang diselesaikan."

Baca Juga: Operasi Rahasia Amerika Terbongkar, Diam-diam Kirim Senjata ke Militan Kurdi untuk Pecahkan Iran

Konflik antara kedua negara sendiri bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Serangan balasan tersebut berdampak besar terhadap stabilitas kawasan, termasuk menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Meski sempat menyepakati gencatan senjata pada April lalu, ketegangan ternyata belum benar-benar berakhir. Amerika Serikat dan Iran masih beberapa kali terlibat aksi saling serang secara sporadis, termasuk dua putaran serangan balasan yang terjadi pekan ini.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri