Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pendekar Prabowo: Ketika Kerja Nyata Bersuara Lebih Nyaring

Oleh: Adib Miftahul, Pengamat Kebijakan Publik

Pendekar Prabowo: Ketika Kerja Nyata Bersuara Lebih Nyaring Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Benjamin Franklin pernah mewariskan sebuah adagium klasik: "Well done is better than well said." Kerja nyata jauh lebih berharga dibandingkan sekadar kata-kata manis. Namun, apa yang disampaikan oleh salah satu founding father Amerika Serikat itu seolah menjadi paradoks di era kekinian. Benarkah sekadar "kerja nyata" sudah cukup di era digital yang bising ini? Jawabannya bisa sangat relatif, apalagi jika kita menariknya ke dalam lanskap pemerintahan dan kebijakan publik di Indonesia.

​Di era media sosial, masyarakat rentan terjebak pada bias heuristik—kecenderungan psikologis yang membuat kita lebih mudah menyerap dan memercayai informasi negatif yang memicu emosi. Akibatnya, saluran informasi publik lebih sering memberi panggung bagi para aktor penebar sentimen sinis.

​Sebaliknya, banyak terobosan positif yang justru sengaja dibiaskan dan diputarbalikkan menjadi misinformasi yang menakutkan. Ingat kembali masa pandemi Covid-19; vaksin yang secara sains merupakan kunci penyelamat umat manusia, justru dinarasikan sebagai propaganda asing untuk pembunuhan massal. Atau dalam dunia korporasi negara, ketika ada upaya positif merampingkan anak cucu perusahaan yang merugi demi efisiensi, narasinya malah dipelintir menjadi "negara bangkrut yang mengobral aset."

​Begitu brutalnya realitas media sosial saat ini. Banyak pihak yang akhirnya terjangkit sindrom "Not to impact, but to impress"—bekerja bukan untuk memberikan dampak fundamental, melainkan sekadar mencari validasi, panggung, dan metrik popularitas yang artifisial.

​Di tengah kebisingan inilah, kita patut memaknai ulang fenomena "diamnya" orang-orang berprestasi. Inilah yang disebut dengan The Art of Silence (Seni Diam). Diam di sini bukan berarti pasif, melainkan sebuah ruang inkubasi untuk eksekusi strategis. Karena bagaimanapun juga, prinsip sejati dari sebuah kebijakan adalah melahirkan manfaat, bukan sekadar memoles citra.

​Kita perlu mendorong lebih banyak kisah tentang para pekerja sunyi ini untuk muncul ke permukaan. Hal ini krusial untuk mengimbangi narasi misinformasi yang kerap disebar demi kepentingan politik sempit. Memang, di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, masih ada pekerjaan rumah di sana-sini. Namun, objektivitas menuntut kita untuk melihat prestasi besar yang sedang dicetak, khususnya dalam mengubah haluan dari pertumbuhan ekonomi yang semu (artificial economic growth) menuju pertumbuhan yang fundamental.

​Sebagai contoh nyata, mari lihat sepak terjang Menteri Pertanian Amran Sulaiman, sang arsitek swasembada pangan. Ia menjadi sejarah tersendiri karena di tengah dunia yang dihantui krisis dan ancaman kelaparan, Indonesia perlahan namun pasti mampu membangun ketahanan pangannya. Ini bukan sekadar klaim, melainkan kerja teknis mencetak sawah baru, memperbaiki tata niaga pupuk, hingga optimalisasi irigasi.

​Ada pula sosok Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang secara konsisten membuktikan bahwa dirinya adalah tipe pemimpin yang lebih banyak bekerja ketimbang bersuara. Peningkatan citra dan kinerja Polri dapat dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat luas. Tanpa banyak drama di depan kamera, Listyo Sigit melakukan bersih-bersih internal secara tegas tanpa pandang bulu, mendorong digitalisasi layanan kepolisian (seperti tilang elektronik/ETLE) yang meminimalkan pungli, serta mengedepankan keadilan restoratif (restorative justice) yang benar-benar menyentuh rasa keadilan masyarakat di akar rumput. Ia menjadikan Polri sebagai shock absorber di tengah gejolak sosial, bukan pembuat riuh.

​Pun halnya dengan Dony Oskaria, Kepala Badan Pelaksana (BP) BUMN. Ia adalah contoh sempurna dari penerapan The Art of Silence dalam manajemen korporasi. Sebagai arsitek transformasi BUMN, ia melakukan konsolidasi masif yang memangkas jumlah entitas BUMN dari 1.077 perusahaan yang tumpang tindih, menjadi hanya 257 perusahaan yang fokus dan berdaya saing.

​Kinerja nyata Dony juga terekam kuat saat bencana melanda Sumatera pada akhir 2025. Tanpa banyak publikasi retoris, ia mengorkestrasi kekuatan BUMN untuk memulihkan kondisi, berkolaborasi membangun ribuan hunian warga dalam waktu yang sangat singkat. Dony membuktikan bagaimana seni bekerja menavigasi krisis tanpa perlu banyak bersuara di media.

​Karakter kerja fundamentalnya juga tercermin dari kebijakannya yang tegas dalam menata ulang laporan keuangan BUMN. Jika selama ini ada kecenderungan laporan di-makeup (poles buku) agar terlihat mengesankan secara artifisial, Dony meruntuhkan kultur itu. Ia mewajibkan transparansi absolut. Prinsipnya sederhana dan berani: jika kinerja dan laporannya buruk, maka BUMN itu wajib bertransformasi. Sebaliknya, jika laporannya baik, itu menjadi standar minimum untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Larangan praktik "poles buku" ini adalah langkah fundamental, karena kejujuran data adalah fondasi utama penciptaan nilai kerja nyata ketimbang hanya bersuara.

​Pada akhirnya, ada benang merah yang mengikat gaya kepemimpinan Amran, Listyo, maupun Dony. Mereka membuktikan bahwa kerja keras selalu bersuara lebih nyaring dibandingkan sekadar ucapan manis. Tanpa perlu over-claim atau pencitraan berlebih, kinerja tersebut tersaji secara konkret dan menjadi jawaban telak bagi masyarakat yang bertanya tentang arah pemerintahan Prabowo.

​Tentu, bukan hanya mereka bertiga. Masih banyak deretan pejabat di kabinet ini yang menorehkan prestasi nyata di luar sorotan lampu kamera. Di sisi lain, kita juga tidak menafikan ada menteri-menteri berkinerja apik yang memang tampil vokal dan berkomunikasi dengan baik di publik, sebut saja Erick Thohir atau Bahlil Lahadalia.

​Kolaborasi antara para "pekerja sunyi" dan "komunikator ulung" ini pada akhirnya menjadi perisai terbaik untuk menjawab misinformasi dan propaganda yang sengaja ditebar oleh oknum tertentu untuk mendiskreditkan pemerintah.

Baca Juga: Adik Prabowo Ungkap RI Kantongi Komitmen 150 Juta Barel Minyak dari Rusia

​Propaganda mungkin akan selalu riuh di media sosial. Namun, di dunia nyata, masyarakat akar rumput pada akhirnya merasakan langsung dampak kebijakan tersebut. Ibarat sebuah pepatah kuno: Tak perlu repot-repot menebas kabut dengan pedang, karena kabut yang tebal sekalipun pada nyatanya akan menguap dan berlalu saat matahari terbit. Kinerja nyata adalah matahari itu. Dan ia selalu membenarkan bahwa actions speak louder than words.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar