Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

ChatGPT Memprediksi Lukisan Dennt JA yang Diberkati Paus Fransiskus Bernilai Puluhan Milar Rupiah

ChatGPT Memprediksi Lukisan Dennt JA yang Diberkati Paus Fransiskus Bernilai Puluhan Milar Rupiah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

ChatGPT memperkirakan nilai sebuah lukisan karya Denny JA yang pernah diberitakan  menerima pemberkatan dari  Paus Fransiskus dalam sebuah peristiwa spontan di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024 lalu bisa menembus harga Rp34 miliar. Estimasi ini disusun melalui pendekatan skenario pasar berbasis analisis kecerdasan buatan (AI) dan pembandingan transaksi karya seni religius di lelang internasional.

Analisis tersebut disampaikan oleh Dr. Satrio Arismunandar, akademisi dan pengamat budaya, yang mengkaji peristiwa ini melalui perspektif sejarah, sosiologi seni, dan ekonomi simbolik.

Kronologi Peristiwa

Seperti pernah diwartakan,  peristiwa pemberkatan lukisan tersebut oleh Paus Fransiskus terjadi saat iring-iringan Paus melintas di depan Galeri Nasional di Jakarta. Kendaraan melambat, dan sebuah lukisan karya Denny JA yang menampilkan adegan simbolik seorang Paus mencuci kaki rakyat kecil yang tengah dipamerkan di Galeri Nasional diangkat oleh seorang pendeta bernama Sylvana. Paus kemudian membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, dan memberikan berkat kepada lukisan tersebut.

"Peristiwa ini berlangsung singkat dan tanpa direncanakan. Dokumentasi visual dan saksi tambahan masih menjadi bagian penting untuk penguatan validasi historis ke depan," ujar Satrio.

Menurut  Satrio, peristiwa tersebut berpotensi meningkatkan nilai karya melalui apa yang dalam kajian sosiologi seni disebut sebagai symbolic elevation, yaitu perubahan status karya akibat keterkaitannya dengan peristiwa historis. Dalam konteks ini, lukisan tersebut memuat beberapa dimensi nilai:

1. Karya seni visual

2. Simbol religius

3. Artefak yang terkait peristiwa

4. Narasi lintas iman

"Pendekatan ini sejalan dengan konsep kapital simbolik yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu, yang menekankan bahwa nilai karya tidak hanya ditentukan oleh aspek estetika, tetapi juga oleh konteks sosial dan historis yang melekat," jelas Satrio.

Ia mengungkapkan, estimasi disusun menggunakan pemodelan berbasis AI dengan membandingkan dengan data lelang karya bertema religius di rumah lelang internasional seperti Sotheby’s dan Christie’s pada periode 2015 hingga 2024. Estimasi ini bersifat indikatif dan memerlukan validasi lebih lanjut oleh penilai independen bersertifikat.

Skenario Konservatif

USD 150.000 – 400.000

Sekitar Rp2,5 – 6,5 miliar

Skenario Menengah

USD 400.000 – 900.000

Sekitar Rp6,5 – 14 miliar

Skenario Premium

USD 1 – 1,5 juta

Sekitar Rp16 – 24 miliar

Skenario Khusus Pembeli

Hingga USD 2 juta

Sekitar Rp34 miliar

Satrio mengatakan, nilai tertinggi sangat bergantung pada faktor non-pasar umum, termasuk keterikatan emosional, religius, dan relevansi narasi bagi pembeli tertentu. Sebagai pembanding, karya bertema Vatikan dalam periode yang sama tercatat berada pada kisaran USD 200.000 hingga USD 1,8 juta.

Perspektif Narasi 

Analisis menunjukkan bahwa kekuatan utama karya ini tidak hanya terletak pada visual, tetapi pada narasi yang menyertainya, antara lain:

* Seniman berlatar belakang Muslim

* Subjek lukisan adalah pemimpin Katolik

* Tema kerendahan hati sebagai pesan universal

* Peristiwa terjadi secara spontan di ruang publik

Menurut Satrio, kombinasi tersebut dinilai memiliki relevansi dalam konteks dialog lintas iman dan dapat meningkatkan daya tarik karya di pasar internasional

Namun ia menekankan bahwa estimasi nilai yang disebutkan  masih bersifat indikatif dan bukan merupakan harga transaksi. Untuk memastikanya masih bergantung pada kurasi, dokumentasi, dan eksposur internasional, Selain itu merlukan verifikasi tambahan, termasuk dokumentasi visual dan penilaian independen. Kurator internasional dan penilai bersertifikat dapat pula melakukan verifikasi faktual, guna memastikan bahwa narasi sejarah dan estimasi nilai ini berdiri di atas basis data objektif.

Namun demikian, menurut Satrio, lukisan ini setidaknya menunjukkan bagaimana sebuah karya dapat mengalami peningkatan makna ketika terkait dengan peristiwa yang memiliki dimensi historis dan simbolik. Di luar potensi nilai ekonomi, karya ini juga mencerminkan peran seni sebagai medium yang dapat menjembatani perbedaan dan menghadirkan ruang dialog lintas budaya dan iman.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi

Tag Terkait: