Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

China Lawan Sanksi Amerika Serikat Terkait Dugaan Beli Minyak Iran

China Lawan Sanksi Amerika Serikat Terkait Dugaan Beli Minyak Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

China siap melawan sanksi terhadap sejumlah perusahaan kilang minyaknya, yang dilancarkan oleh Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan dugaan pembelian minyak oleh perusahaan tersebut dari Iran.

Kementerian Perdagangan China menyatakan telah mengeluarkan perintah hukum (injunction) untuk memblokir sanksi dari Amerika Serikat. Menurutnya, sanksi  tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar hubungan antarnegara.

Baca Juga: Amerika Serikat Klaim Sudah Hancurkan Kekuatan Militer Iran, Trump: 80% Fasilitas Rudal Lumpuh

Adapun Beijing menyebut lima perusahaan yang terdampak, yaitu Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery, Shandong Jincheng Petrochemical Group, Hebei Xinhai Chemical Group, Shouguang Luqing Petrochemical dan Shandong Shengxing Chemical. Melalui injunction tersebut, mereka menegaskan bahwa sanksi tidak boleh diakui atau dijalankan oleh pihak terkait. 

“Amerika Serikat tidak dapat diakui, diterapkan, atau dipatuhi terkait sanksi terhadap lima perusahaan tersebut,” demikian pernyataan kementerian terkait dari China.

Sanksi Amerika Serikat ini diketahui telah menimbulkan hambatan bagi perusahaan, termasuk kesulitan mendapatkan pasokan minyak mentah hingga membuat perusahaan terkait terpaksa melakukan penjualan produk olahan mereka dengan nama berbeda.

Kelima perusahaan tersebut termasuk kategori kilang independen yang menyumbang sekitar seperempat kapasitas penyulingan dari China. Industri ini dikenal beroperasi dengan margin tipis dan kini tertekan oleh lemahnya permintaan domestik.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menegaskan pihaknya juga siap menerapkan sanksi sekunder terhadap pihak yang tetap membeli minyak dari Iran. Langkah ini menyasar jaringan ekonomi negara tersebut secara luas, termasuk sektor energi, perbankan, dan perdagangan internasional.

Ia mengklaim tekanan ekonomi tersebut telah mendorong pemerintahan negara itu ke dalam kondisi krisis. Kampanye ekonomi ini berjalan bersamaan dengan blokade laut terhadap pelabuhan dari Iran.

Bessent menyebut kombinasi sanksi dan blokade berpotensi menimbulkan kerusakan permanen pada ekonomi dari Teheran. Meski demikian, langkah ini juga meningkatkan ketegangan ekonomi global, terutama di sektor energi dan keuangan.

Adapun Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah blokade terhadap negaranya belum memberikan dampak signifikan, seperti yang diharapkan oleh Amerika Serikat.

Menurutnya, kebijakan blokade dasarkan pada persepsi yang keliru, di mana kebijakan tersebut dianggap akan menekan pihaknya secara ekonomi namun yang terjadi justru membuat harga minyak dunia melonjak tinggi  hingga di atas US$120 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi.

Baca Juga: Kalau Bersatu, China Janjikan Lonjakan Ekonomi ke Taiwan

Ghalibaf menilai strategi blokade justru merugikan pasar global dan memperburuk ketidakstabilan energi, di mana hal tersebut mencoreng citra dari Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar