Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

China Mulai Gantikan Peran AS untuk Tangani Ebola di Afrika, Pembubaran USAID jadi Pintu Masuk

China Mulai Gantikan Peran AS untuk Tangani Ebola di Afrika, Pembubaran USAID jadi Pintu Masuk Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wabah Ebola yang sempat dinyatakan berakhir pada Oktober 2025 kembali terdeteksi dengan tingkat penyebaran yang lebih ganas pada 15 Mei 2026 di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan telah meluas ke Uganda. Di tengah meningkatnya ancaman kesehatan tersebut, respons China dan Amerika Serikat menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam penanganan krisis.

Penanganan gelombang terbaru Ebola menghadapi tantangan akibat berkurangnya dukungan Amerika Serikat dibandingkan wabah-wabah sebelumnya. Kondisi ini terjadi setelah pembubaran bertahap United States Agency for International Development (USAID) sejak Juli 2025. Padahal, dalam wabah Ebola di DRC pada periode 2018–2020, USAID menyumbang dana sebesar 324 juta dolar AS, sementara Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memberikan dukungan sebesar 37 juta dolar AS.

Meski Amerika Serikat masih memberikan bantuan melalui pengerahan Tim Tanggap Bantuan Bencana (DART) dan menyalurkan dana darurat sebesar 23 juta dolar AS melalui Departemen Luar Negeri, absennya USAID memunculkan kekhawatiran terhadap efektivitas respons wabah.

Di saat yang sama, Pemerintah China mulai meningkatkan dukungannya kepada DRC dan bekerja sama dengan Uni Afrika dalam upaya mengendalikan penyebaran Ebola di kawasan Afrika.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa pemerintahnya telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC, termasuk mengirim tim ahli medis guna memberikan layanan dan bantuan kesehatan.

Selain itu, China juga menyalurkan bantuan kepada Komisi Uni Afrika serta terlibat dalam kerja sama pencegahan dan pengendalian Ebola bersama organisasi tersebut. Menurut Lin Jian, Beijing menaruh perhatian serius terhadap munculnya kembali wabah Ebola di DRC.

Ia menjelaskan bahwa saat memimpin pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB di New York, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa China akan selalu memberikan bantuan ketika terjadi krisis kesehatan masyarakat berskala besar.

Mengutip pernyataan Wang Yi, Lin Jian menyebut China pernah memberikan dukungan besar kepada tiga negara Afrika Barat yang terdampak Ebola pada 2015. Kini, China kembali menyatakan kesiapan untuk membantu negara-negara yang terkena wabah terbaru, termasuk DRC.

Dukungan China juga diberikan kepada Africa Centres for Disease Control and Prevention guna meningkatkan kapasitas negara-negara Afrika dalam menghadapi wabah tersebut.

Lin Jian menilai dukungan terhadap respons negara-negara Afrika terhadap Ebola merupakan bagian dari pembangunan komunitas China-Afrika yang siap menghadapi berbagai tantangan bersama. Upaya tersebut juga disebut sebagai bagian penting dari sepuluh aksi kemitraan yang disepakati dalam KTT FOCAC Beijing 2024.

Menurutnya, China telah mengirim 45 tim medis yang melibatkan lebih dari 900 tenaga kesehatan ke 44 negara Afrika. Saat ini, tim medis China disebut masih berada di lapangan dan bekerja bersama masyarakat Afrika untuk memerangi penyakit tersebut.

China juga menyerukan kepada komunitas internasional agar mengambil langkah yang lebih konkret guna membantu DRC dan negara-negara Afrika lainnya mengatasi wabah Ebola secepat mungkin.

Sementara itu, memburuknya penyebaran Ebola di DRC dan Uganda disebut berkaitan dengan berkurangnya dukungan Amerika Serikat terhadap sistem kesehatan global. Selain menarik pendanaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah AS juga membubarkan USAID, melakukan pemotongan di CDC, serta tengah mengurangi bantuan kesehatan kepada DRC dan Uganda yang menjadi pusat penyebaran wabah.

Serangkaian kebijakan tersebut dinilai telah melemahkan sistem kesehatan global yang selama ini menjadi elemen penting dalam respons terhadap wabah penyakit menular.

Baca Juga: Prabowo dan Megawati Pamer Kedekatan, Gibran Masih 'Dingin'

Dampak berkurangnya dukungan itu juga terlihat dari lambatnya deteksi wabah. Para pejabat AS disebut baru mengetahui keberadaan wabah Ebola sembilan hari setelah WHO mengetahuinya, atau hampir satu bulan setelah kematian pertama terjadi.

Keterlambatan konfirmasi wabah sebagian disebabkan oleh kesalahan penanganan sampel yang dikirim ke laboratorium nasional di Kinshasa, Kongo. Tugas tersebut sebelumnya ditangani oleh USAID.

Situasi ini berbeda dengan respons Amerika Serikat saat wabah Ebola pada 2014. Ketika itu, USAID berperan dalam pendirian klinik, pengadaan ambulans, pelacakan kasus suspek, serta penyediaan staf untuk fasilitas isolasi. Dengan berkurangnya peran lembaga tersebut, kekhawatiran terhadap kapasitas respons wabah Ebola kembali mengemuka di tengah penyebaran penyakit yang terus berlangsung.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: