Intoleransi Naik, Serangan Terhadap Umat Kristen Meningkat di Israel
Kredit Foto: Istimewa
Israel dikejutkan oleh serangan terhadap seorang biarawati dan insiden vandalisme terhadap simbol dari Kristen. Tel Aviv mengecam hal tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak terima dan tikda memiliki tempat dalam masyarakat dari Israel.
Dikutip dari Aljazeera, Namun para analis menilai bahwa hal tersebut hanyalah sebagai kecil tindakan intoleransi terhadap umat dari Kristen di Israel. Banyak insiden yang tidak dilaporkan jarena kepercayaan terhadap negara masih rendah.
Baca Juga: Amerika Serikat: Taiwan Adalah Mitra Terpercaya, Punya Manfaat Signifikan!
Data dari Religious Freedom Data Center menunjukkan bahwa dalam tiga bulan pertama tahun ini terdapat 31 laporan pelecehan terhadap umat Kristen. Sebagian besar berupa tindakan meludah dan perusakan properti gereja.
Sementara Rossing Center for Education and Dialogue mencatat 113 serangan terhadap individu dan properti gereja sepanjang tahun lalu di Israel dan Yerusalem Timur. Hal itu termasuk 61 serangan fisik yang banyak menargetkan tokoh agama seperti biarawan, biarawati, dan imam.
Direktur Program di Jerusalem Center for Jewish-Christian Relations, Hana Bendcowsky, mengatakan tren tersebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini jelas meningkat dalam tiga tahun terakhir. Sentimen terhadap Kekristenan sudah ada sebelumnya, tetapi dulu orang tidak berani mengekspresikannya secara terbuka,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan suasana politik turut memengaruhi kondisi tersebut.
“Dalam tiga tahun terakhir, atmosfer politik di Israel membuat orang merasa lebih bebas untuk melecehkan umat Kristen, terutama karena berkurangnya kekhawatiran terhadap reaksi internasional,” katanya.
Di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, kecenderungan ultranasionalisme disebut semakin menguat, termasuk dalam kebijakan terhadap warga Palestina. Kelompok sayap kanan yang sebelumnya berada di pinggiran kini memiliki peran lebih besar dalam pemerintahan.
Aktivis Perdamaian Israel, Arik Ascherman, menilai tindakan pelecehan terhadap non-Yahudi semakin meluas.
“Kebencian dan upaya melecehkan non-Yahudi oleh sebagian kelompok, terutama elemen pemukim, tidak mengenal batas,” ujarnya.
Bendcowsky juga menyoroti akar historis hubungan Yahudi-Kristen yang kompleks.
“Kurangnya pemahaman terhadap komunitas Kristen, ditambah memori historis yang cenderung negatif, membuat kondisi ini mudah dimanfaatkan dalam situasi politik saat ini,” katanya.
Para peneliti menyebut banyak kasus tidak dilaporkan karena rendahnya kepercayaan terhadap aparat penegak hukum.
“Ada kekurangan kepercayaan yang signifikan terhadap polisi, dan ini menyebabkan banyak insiden tidak dilaporkan,” ujar Bendcowsky.
Ia menambahkan bahwa penanganan kasus sering kali bergantung pada perhatian internasional.
“Jika tidak mendapat sorotan global, terutama dari Amerika Serikat, banyak kasus tidak diselidiki atau ditutup tanpa hasil,” katanya.
Meski demikian, pemerintah Israel cenderung merespons cepat ketika tekanan internasional meningkat. Setelah video tentara Israel merusak patung Kristen di Lebanon viral, otoritas setempat segera mengeluarkan kecaman. Hal serupa terjadi ketika aparat kepolisian menghalangi Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Kudus.
Namun, sejumlah serangan terhadap gereja di Gaza dan Lebanon disebut hanya diakui setelah muncul tekanan global yang signifikan.
Baca Juga: Amerika Serikat dan Filipina Uji Rudal Anti-Kapal di Laut China Selatan
Di Israel, Kekristenan kerap diasosiasikan dengan komunitas Palestina, sehingga meningkatnya konflik dan kekerasan terhadap warga Palestina turut berdampak pada komunitas Kristen di wilayah tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: