Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Israel Dikepung! Houthi Resmi Tutup Laut Merah

Israel Dikepung! Houthi Resmi Tutup Laut Merah Kredit Foto: Reuters/Ali Owidha
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan larangan total terhadap seluruh aktivitas pelayaran yang terkait dengan Israel di Laut Merah. Keputusan itu memperlihatkan bahwa perang tidak lagi hanya melibatkan Iran dan Israel, melainkan telah melebar ke berbagai front di kawasan.

Pengumuman tersebut disampaikan juru bicara Angkatan Bersenjata Houthi, Brigjen Yahya Saree, pada Senin (8/6/2026). Dalam pernyataannya, Houthi menegaskan setiap pergerakan kapal yang memiliki hubungan dengan Israel kini dianggap sebagai sasaran militer.

Langkah itu menjadi sinyal bahwa kelompok Houthi secara terbuka meningkatkan keterlibatan mereka dalam konflik yang terus memanas. Situasi tersebut menambah tekanan terhadap Israel yang kini menghadapi ancaman dari sejumlah wilayah sekaligus.

Selain mengumumkan blokade pelayaran, Houthi juga mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke sejumlah lokasi strategis di Israel. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas aksi militer Israel di Lebanon, Iran, dan Jalur Gaza.

"Operasi tersebut berhasil mencapai targetnya secara tepat," kata Yahya Saree dalam pernyataan resmi yang dikutip media kawasan.

Keputusan Houthi menutup Laut Merah bagi Israel dinilai memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar aksi militer biasa. Laut Merah merupakan salah satu jalur perdagangan dan logistik paling penting di dunia yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

Dengan ancaman terhadap kapal-kapal yang berhubungan dengan Israel, risiko gangguan distribusi barang dan energi global berpotensi meningkat. Kondisi itu juga dapat memicu ketegangan baru di sektor pelayaran internasional.

Dalam pernyataannya, Houthi menegaskan larangan tersebut berlaku efektif sejak diumumkan. Mereka memperingatkan bahwa setiap aktivitas yang dianggap mendukung Israel akan menjadi target operasi militer berikutnya.

Militer Houthi juga menegaskan bahwa seluruh langkah yang diambil merupakan bagian dari dukungan terhadap apa yang mereka sebut sebagai poros perlawanan yang mencakup Iran, Palestina, Lebanon, Irak, dan Yaman. Mereka menyatakan akan terus meningkatkan operasi apabila serangan terhadap sekutu mereka berlanjut.

Di saat yang sama, konflik juga memanas setelah Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Lebanon dan Iran. Aksi tersebut memicu gelombang serangan balasan dari Teheran yang kembali mengirimkan rudal ke wilayah Israel.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan mengumumkan peluncuran Operasi Victory yang menargetkan pangkalan udara strategis Nevatim dan Tel Nof milik Israel. Operasi itu disebut sebagai respons atas serangan Israel terhadap fasilitas penting di Iran.

Baca Juga: Trump Larang Israel Membalas Iran, Netanyahu Tutup Semua Pintu Gaza

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa Israel kini menghadapi tekanan dari berbagai arah secara bersamaan. Selain berhadapan dengan Iran, ancaman juga datang dari kelompok Houthi di Yaman serta berbagai elemen yang tergabung dalam poros perlawanan di kawasan.

Kondisi tersebut membuat konflik Timur Tengah semakin berpotensi berubah menjadi perang regional yang lebih luas. Jika eskalasi terus berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: