Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Jejak Atlet Balap Sepeda yang Kini Bertahan di Usaha Kayu Jati

Jejak Atlet Balap Sepeda yang Kini Bertahan di Usaha Kayu Jati Kredit Foto: Dwi Aditya Putra
Warta Ekonomi, Semarang -

Suara deru mesin pemotong kayu memecah kebisingan di sebuah bangunan pinggir jalan Kota Semarang. Serbuk kayu beterbangan, aroma jati tua memenuhi udara, hingga aroma cat yang menyengat hidung. Namun dari tempat inilah Seno Sudono memulai usahanya.

Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dipenuhi rumah dan aktivitas warga itu dahulu hanyalah hamparan hutan sunyi. Listrik baru masuk desa ketika sebuah pabrik besar mulai beroperasi pada 1984. Sebelumnya, kehidupan berjalan sederhana, jauh dari hiruk pikuk kota. 

"Kan yang lewat sini jarang karena hutan masih dulu. Kalau sudah jam 16.00 WIB udah sepi, neggak ada kendaraan lewat," kata Seno menceritakan kondisi tempat usahanya kala itu.

Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah itu bukan orang biasa. Pada era 1970-an, ia dikenal sebagai atlet nasional cabang balap sepeda. Ia bahkan meraih dua medali emas pada ajang olahraga internasional yang diikutinya.

"Minimal-minimal dua sampai tiga emas saya peroleh," ungkap dia.

Sepeda, sepatu, dan jersey yang pernah mengantarkannya menjadi juara kini tersimpan sebagai koleksi di Museum Olahraga Taman Mini Indonesia Indah. Hal itu menjadi saksi perjalanan seorang atlet dari masa kejayaan olahraga Indonesia.

Namun selepas masa kejayaan sebagai atlet, hidup tidak langsung berjalan mudah. Ia sempat khawatir tidak memiliki pekerjaan tetap setelah usia atletnya menua. Dari kegelisahan itulah, jalan baru terbuka.

Baca Juga: Askrindo Jamin Kredit KUR Senilai Rp810,3 Triliun Sejak 2007 hingga Kuartal I 2026

Usai mengikuti Asian Games di Chiang Mai, Thailand, pria berusia 74 tahun itu akhirnya memutuskan memulai usaha kecil-kecilan di bidang perkayuan. Dari membuat rak piring sederhana berbahan kayu, hingga kemudian merambah ke pembuatan dipan, pintu, hingga furnitur berbahan kayu jati.

"Setelah Asian Games di Chiang Mai, takut enggak dapet pekerjaan terus saya buka usaha kecil-kecilan," ungkap dia.

Usaha yang ia rintis perlahan kini tumbuh. Omzet sebulan bisa tembus hingga Rp30 juta. Berbekal keterampilan yang sempat ia pelajari saat dikirim ke Swiss untuk pelatihan perkayuan, ia mulai menerima pesanan yang lebih besar, termasuk parket lantai kayu dan komponen furnitur.

"Kalau sekarang ini paling ya 30 juta per bulan (omzet)," imbuh dia.

Titik balik datang ketika pesanan mulai berdatangan dari relasi lama, termasuk teman masa sekolah yang masih mengingat keahliannya. Dari situ, usaha kecil itu berkembang menjadi bengkel produksi kayu yang melayani berbagai proyek besar.

Kini, usahanya telah berjalan lebih dari empat dekade. Meski naik turun, termasuk saat krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19, ia memilih bertahan tanpa mengurangi jumlah pekerja secara drastis.

“Yang penting tidak memberhentikan karyawan,” katanya tegas.

Di bengkel sederhana itu, hanya sekitar delapan orang yang kini bekerja bersamanya. Ia sendiri lebih banyak berperan mengawasi dan memastikan kualitas produksi.

Baca Juga: Premi Askrindo Tumbuh 10% di Maret 2026, Lini Asuransi Umum Jadi Penopang Utama

Dari segi akses pembiayaan sendiri, Seno mengaku tenang karena mengetahui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diambil telah dijamin PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo. Branch Manager Askrindo Semarang Gami Aji L menuturkan, pihaknya berperan menjamin KUR yang diambil oleh Slamet.

Secara total, penjaminan KUR Askrindo di Kantor Cabang Semarang mencapai Rp1,3 triliun hingga April 2026. Jumlah debiturnya mencapai 24.000 orang. Kebanyakan debitur berasal dari sektor perdagangan, dengan jumlah mencapai 10.571 debitur.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra