Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah, Benarkah Warga Desa Tak Terpengaruh Dolar? Ini Faktanya

Rupiah Melemah, Benarkah Warga Desa Tak Terpengaruh Dolar? Ini Faktanya Kredit Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah ambruk ke level Rp 17.600 per dolar AS. Angka ini jadi alarm keras karena efeknya bisa langsung terasa ke harga kebutuhan sehari-hari.

Saat rupiah melemah, biaya impor otomatis naik. Dampaknya bukan cuma di level industri, tapi bisa cepat merembet ke dapur rumah tangga.

Produk seperti mie instan, roti, tahu, tempe, hingga susu mulai terancam naik. Semua itu bergantung pada bahan baku impor seperti gandum dan kedelai.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan datang dari situasi global yang memanas.

“Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah,” ujarnya.

Kombinasi geopolitik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, dan suku bunga tinggi Amerika Serikat membuat dolar semakin dominan. Di tengah situasi itu, rupiah jadi salah satu yang paling tertekan.

Dari dalam negeri, tekanan juga belum mereda. Risiko defisit anggaran hingga kebutuhan utang pemerintah ikut memperberat beban rupiah.

Ekonom Wijayanto Samirin menilai kondisi ini bisa memicu efek berantai ke sektor riil. Ketika biaya naik di hulu, harga di hilir hampir pasti ikut terdorong.

Guru Besar Rahma Gafmi bahkan menyebut kenaikan sudah mulai terasa di tingkat produsen.

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik,” ujarnya.

Baca Juga: Prabowo Sebut Rakyat Pemegang Saham Indonesia, Singgung Keadilan Kekayaan

Artinya, lonjakan harga bukan sekadar potensi, tapi sudah mulai bergerak. Dalam beberapa bulan ke depan, dampaknya bisa makin terasa di kantong masyarakat.

Selama ketergantungan pada impor masih tinggi, pelemahan rupiah akan terus jadi ancaman. Setiap kali kurs tertekan, harga kebutuhan ikut terdorong naik tanpa banyak pilihan.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan biaya produksi industri akan meningkat. Beban itu pada akhirnya akan dibayar konsumen lewat harga yang lebih mahal.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: