Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Kondisi ekonomi Indonesia dinilai sedang tidak baik-baik saja di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut anjlok.
Masyarakat pun khawatir kondisi ini akan memicu krisis ekonomi seperti tahun 1998. Pada puncak krisis moneter 1998, nilai tukar rupiah ambruk hingga menyentuh level Rp16.650–Rp16.900 per dolar AS. Kini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot pagi ini (Kamis, 21 Mei 2026) berada di posisi Rp17.651 per dolar AS.
Seorang netizen di platform X dengan akun @Hidupsebagai62 menyoroti kesamaan peristiwa antara krisis 1998 dengan kondisi Indonesia saat ini.
“Tahun 1998 El Nino menghantam, banyak gagal panen, rupiah anjlok, utang pemerintah menumpuk, harga pangan naik semua, Presiden tutup mata, demo besar-besaran di kota-kota, dan Soeharto turun,” tulisnya, Kamis (21/5).
Ia kemudian membandingkan dengan situasi 2026:
- Indonesia menghadapi ancaman El Nino terparah dalam 100 tahun terakhir.
- Rupiah terus melemah.
- Utang pemerintah menembus Rp10.000 triliun.
- Harga pangan melonjak, mulai dari beras hingga minyak goreng.
- Presiden dinilai tutup mata, bahkan sempat berujar rakyat tidak butuh dolar dan tidak ingin kaya.
Netizen tersebut pun mempertanyakan apakah kondisi ini akan berujung pada demo besar-besaran dan Presiden Prabowo Subianto akan turun seperti Presiden ke-2 Soeharto.
“Bakal ada demo besar-besaran? Prabowo turun?” imbuhnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya juga menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dalam video di akun X pribadinya, ia menyoroti pelemahan rupiah dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus. Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak,” ujar Anies, dikutip Rabu (20/5).
Ia meminta pemerintah untuk jujur kepada publik dan tidak memberikan “obat tidur” berupa narasi menenangkan tanpa solusi nyata.
“Berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka data apa adanya. Sampaikan masalah dengan jujur. Berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten. Pimpin secara solid, ajeg, dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itu yang akan menenangkan rakyat,” imbuhnya.
Baca Juga: Dolar Belum 100 Ribu, Gen Z Sudah Panik Negara Bubar
Baca Juga: soal Industrialisasi Nasional, Menperin Sepakat dengan Visi Prabowo
Menurut Anies, dalam situasi penuh tekanan saat ini, hal yang paling dibutuhkan masyarakat adalah kepastian kebijakan, bukan sekadar ketenangan semu.
“Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula. Tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran. Dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: