Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Dibuka Anjlok 1,80%, Sempat Terlempar ke Level 5.900

IHSG Dibuka Anjlok 1,80%, Sempat Terlempar ke Level 5.900 Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ambruk signifikan pada pembukaan perdagangan pagi ini Jumat (22/5/2026). Berdasarkan data RTI Business pada pukul 09.01 WIB, indeks saham domestik merosot tajam sebesar 1,80 persen atau melemah 109,505 poin ke level 5.985.

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di zona merah pada level 6.065. Sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.071, pergerakan indeks langsung longsor hingga menyentuh level terendahnya di posisi 5.983.

Pelemahan tajam ini didorong oleh dominasi saham-saham yang terkoreksi. Tercatat sebanyak 430 saham bergerak melemah, sementara hanya 78 saham yang berhasil menguat, dan 160 saham lainnya stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Volume perdagangan di menit-menit awal pembukaan pasar mencapai 1,472 miliar lembar saham, dengan nilai transaksi menyentuh Rp727,9 miliar. Adapun frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 89.600 kali transaksi, dengan total kapitalisasi pasar berada di angka Rp10.373 triliun.

Senior Technical AnalystMirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal, IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI setelah berhasil menguji target “wave 5 / A alt.”. Diharapkan fase pelemahan terbatas mulai terjadi.

"Setelah kejatuhan IHSG kemarin, berbagai saham yang berada di level valuasi yang sangat murah atau deeply undervalued, sehingga kondisi ini berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestic, baik dana pensiun dan auransi, untuk melakukan akumulasi bertahap atau bottom fishing, dengan memanfaatkan harga diskon pasca-panic selling," kata Nafan dalam analisanya.

Dari sisi global, pergerakan indeks dipicu dinamika geopolitik AS-Iran masih menjadi sentimen utama bagi market. Para pelaku pasar mencermati terhadap laporan bahwa draf akhir perjanjian perdamaian AS-Iran telah tercapai dengan bantuan mediator Pakistan.

Baca Juga: IHSG 2026 Sadis! Setiap Bulan Merah, Investor Tersiksa

Baca Juga: Rosan Sebut Pemicu IHSG Ambruk Bukan Karena Isu Badan Ekspor, Tapi Gara-gara Ini

Adapun perjanjian tersebut mencakup gencatan senjata segera di semua front, jaminan kebebasan navigasi di Teluk dan Selat Hormuz, dan dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang belum terselesaikan dalam waktu satu minggu.

Dari domestik, para pelaku pasar akan mencermati perilisan transaksi berjalan pada triwulan I-2026 yang diprediksikan hanya defisit sebesar 0,8 miliar USD. Perkiraan defisit ini mengindikasikan bahwa pasokan valas dari hasil ekspor barang Indonesia sebenarnya masih sangat kokoh menahan gempuran beban impor dan pembayaran jasa eksternal.

Selain itu, juga memberikan sinyal kepada dunia bahwa ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi volatilitas harga komoditas global. Apabila rilis data riil dari Bank Indonesia nanti sesuai prediksi, maka hal ini akan menjadi katalis fundamental yang sangat kuat untuk meredam kepanikan market.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra