Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Catat Transaksi LCT Tembus US$22,61 Miliar, Kurangi Dampak Volatilitas Dolar AS

BI Catat Transaksi LCT Tembus US$22,61 Miliar, Kurangi Dampak Volatilitas Dolar AS Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Makassar -

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) hingga April 2026 sebesar 22,61 miliar dolar AS atau melonjak 309% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 7,33 miliar dolar AS.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A Cussoy Intama, menggatakan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi antarnegara.

Menurutnya, penguatan kerja sama bilateral melalui skema LCT menjadi semakin relevan, terutama setelah meningkatnya gejolak ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir.

Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” ujarnya dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (21/5/2026).

Adapun rata-rata bulanan pelaku LCT mencapai 5.265 pelaku, meningkat tajam dibandingkan 497 pelaku pada 2021. Jumlah tersebut naik menjadi 1.741 pelaku pada 2022, kemudian 2.602 pelaku pada 2023 dan 5.020 pelaku pada 2024. Pada 2025, rata-rata bulanan pelaku LCT bahkan sempat mencapai 9.720 pelaku.

Ruth menjelaskan, meningkatnya penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional menjadi salah satu langkah untuk meredam dampak volatilitas dolar AS terhadap aktivitas perdagangan dan investasi lintas negara.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” jelasnya.

BI mencatat Tiongkok menjadi mitra terbesar Indonesia dalam implementasi LCT dengan kontribusi transaksi mencapai 89%. Jepang berada di posisi berikutnya dengan porsi 6%, sementara Malaysia menyumbang sekitar 3% dari total transaksi.

Ruth menambahkan, penggunaan mata uang lokal memberikan sejumlah manfaat bagi pelaku usaha, mulai dari efisiensi biaya transaksi karena tidak perlu menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara, hingga diversifikasi risiko nilai tukar. Skema ini juga dinilai dapat memperdalam pasar keuangan regional dan memperluas partisipasi pelaku pasar di kawasan.

Baca Juga: Bank Indonesia Siapkan New BI-Fast untuk Mudahkan Transfer Uang ke Luar Negeri

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.400, Bank Indonesia Sebut Masih Sejalan dengan Mata Uang Global

Implementasi LCT Indonesia dimulai pada 2018 melalui kerja sama dengan Malaysia dan Thailand. Program tersebut kemudian diperluas ke Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Singapura, dan India.

Saat ini, BI masih menyelesaikan penyusunan dan penyepakatan operational guidelines untuk implementasi penuh dengan Singapura dan India. Selain itu, Arab Saudi juga masuk dalam daftar negara yang akan segera mengimplementasikan skema LCT bersama Indonesia.

“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” pungkasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra