Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah Dinilai Bukan Hanya karena Efek Dollar AS, Ini Kata Ekonom

Rupiah Melemah Dinilai Bukan Hanya karena Efek Dollar AS, Ini Kata Ekonom Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Warta Ekonomi, Jakarta -

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dinilai bukan sekadar dampak dari kuatnya mata uang Amerika Serikat di pasar global. Pelemahan rupiah justru disebut menjadi alarm atas kerentanan struktural dalam fundamental ekonomi nasional yang membutuhkan pembenahan secara menyeluruh.

Ekonom senior dari Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, menilai penguatan fundamental ekonomi menjadi langkah utama untuk menciptakan rupiah yang lebih stabil dan kuat dalam jangka panjang.

Menurut Farouk, pelemahan rupiah yang menyentuh level historis terhadap dollar AS tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan teknis pasar valuta asing.

“Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level historis terhadap dollar AS perlu dibaca bukan semata-mata sebagai persoalan teknis pasar valuta asing, melainkan sebagai sinyal perlunya penguatan fundamental ekonomi nasional secara lebih serius dan menyeluruh,” ujar Farouk dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/5/2026).

Ia mengakui tekanan global memang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang. Namun, Farouk menyoroti bahwa dalam satu hingga dua tahun terakhir sejumlah mata uang dunia seperti ringgit Malaysia, euro, hingga franc Swiss justru mampu menguat terhadap dollar AS.

Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya dipicu fenomena “strong dollar”, tetapi juga mencerminkan lemahnya daya tahan ekonomi domestik Indonesia.

Farouk menilai stabilitas rupiah tidak cukup dijaga melalui intervensi pasar valuta asing atau kebijakan kenaikan suku bunga semata. Kebijakan moneter disebut hanya efektif menjaga stabilitas jangka pendek, sedangkan kekuatan rupiah dalam jangka panjang sangat ditentukan sektor riil dan produktivitas nasional.

“Dalam jangka menengah dan panjang, kekuatan rupiah sangat bergantung pada kekuatan sektor riil, produktivitas nasional, dan daya tahan ekonomi domestik,” katanya.

Selain penguatan sektor riil, Farouk menilai daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah dan aspiring middle class, perlu menjadi perhatian utama. Kelompok tersebut selama ini dinilai menjadi penopang konsumsi domestik sekaligus sumber penerimaan pajak negara.

Ia mengingatkan, pelemahan kelas menengah dapat berdampak langsung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang pada akhirnya ikut menekan ketahanan rupiah.

Farouk juga mendorong pemerintah membangun sistem perpajakan yang lebih kompetitif dan adil, terutama bagi kelompok kelas menengah, pelaku UMKM, dan sektor pencipta lapangan kerja.

“Sistem perpajakan yang terlalu menekan daya beli berpotensi memperlemah konsumsi domestik dan mempersempit pertumbuhan kelas menengah,” ujarnya.

Menurut Farouk, kebijakan perpajakan yang lebih sehat dapat memperkuat konsumsi masyarakat, meningkatkan tabungan dan investasi, serta memperbesar basis ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya deregulasi dan debirokratisasi untuk memperkuat iklim usaha nasional. Pemerintah juga dinilai perlu mempercepat penguatan ekspor, meningkatkan devisa sektor pariwisata, serta mendorong industri substitusi impor strategis guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Farouk menilai tingginya ketergantungan impor membuat permintaan terhadap dollar AS terus meningkat sehingga rupiah menjadi lebih rentan terhadap tekanan eksternal.

“Stabilitas mata uang pada dasarnya sangat terkait dengan kepercayaan terhadap kapasitas produksi, iklim bisnis yang kondusif, dan daya saing ekonomi suatu negara,” kata dia.

Baca Juga: BI Imbau Masyarakat Tak Borong Dolar AS di Tengah Pelemahan Rupiah

Ia menegaskan penguatan rupiah perlu dilakukan melalui pendekatan struktural, mulai dari memperkuat sektor riil, memperbesar kelas menengah, meningkatkan produktivitas nasional, memperluas ekspor dan devisa pariwisata, hingga mengurangi ketergantungan impor strategis.

“Dengan cara itulah rupiah dapat diperkuat dari fondasi ekonomi nasional yang sesungguhnya,” tutur Farouk.

Farouk Abdullah Alwyni merupakan mantan pejabat di Islamic Development Bank dan pernah menjabat direksi di Bank Muamalat Indonesia. Ia juga merupakan alumnus New York University dan University of Birmingham.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: