Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Produksi Migas PHE Capai 945 Ribu BOEPD di Awal 2026

Produksi Migas PHE Capai 945 Ribu BOEPD di Awal 2026 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat produksi minyak dan gas bumi (migas) pada periode Januari hingga April 2026 sebesar 945 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD), dengan produksi minyak 475 ribu barel per hari dan gas 2.722 MMSCFD.

Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menjelaskan produksi minyak tersebut terdiri dari 367 ribu barel per hari domestik dan 109 ribu barel per hari internasional. Sementara produksi gas terdiri dari 2.385 MMSCFD domestik dan 337 MMSCFD internasional.

“Jika diekuivalenkan, produksi mencapai 945.000 barel oil equivalent per day, dengan target 1.030.000 barrel oil equivalent per day melalui program filling the gap,” ujar Awang dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (25/5/2026).

Sebagai pembanding, sepanjang 2025 PHE membukukan produksi minyak 556 ribu barel per hari, terdiri dari 396 ribu barel domestik dan 160 ribu barel internasional.

Produksi gas tercatat 2.757 MMSCFD, terdiri dari 2.451 MMSCFD domestik dan 306 MMSCFD internasional. Secara ekuivalen, total produksi 2025 mencapai 1,032 juta BOEPD.

Awang menegaskan, industri hulu migas menghadapi tantangan utama berupa natural decline, dengan laju penurunan sekitar 24% untuk minyak dan 21% untuk gas per tahun.

“Artinya, tanpa upaya mitigasi, produksi minyak akan turun 24% per tahun, dan gas 21% per tahun secara alami,” ujarnya.

Untuk mengatasi tekanan tersebut, PHE menjalankan berbagai aktivitas operasi, termasuk hampir 900 sumur pengeboran pengembangan, hampir 1.300 kegiatan workover, serta lebih dari 37.000 pekerjaan well intervention.

Dari sisi eksplorasi, PHE memperoleh wilayah kerja baru pada periode 2022–2025, yaitu Binaiya, Lavender, dan Bobara yang disebut menjadi potensi game changer ke depan.

Baca Juga: PHE Gandeng Exxon dan Korea Selatan Garap Proyek CCS Raksasa

Baca Juga: Kinerja Terjaga, Produksi Migas Pertamina Hulu Energi (PHE) Capai 956 Ribu BOEPD pada Triwulan I 2026

Pada aset eksisting, perseroan terus mengoptimalkan produksi melalui multi-stage fracturing, enhanced oil recovery (EOR) berupa steam dan chemical injection, serta pengembangan minyak nonkonvensional di Riau dengan temuan sumber daya kontingen sekitar 1 billion oil equivalent.

Untuk kinerja awal 2026, PHE mencatat sejumlah faktor yang memengaruhi produksi. Di Blok Rokan, terjadi gangguan suplai gas akibat kebocoran pipa TGI yang berlangsung lebih dari 20 hari dan berdampak pada produksi minyak.

Selain itu, di wilayah kerja yang bermitra dengan ExxonMobil, keterbatasan fasilitas di Banyu Urip menjadi kendala peningkatan produksi gas pada kuartal I 2026.

Di sisi internasional, produksi West Qurna di Irak sempat terdampak situasi geopolitik, dengan penghentian sementara yang menyebabkan kehilangan sekitar 100.000 barel per hari. Produksi saat ini telah kembali, namun belum sepenuhnya normal.

PHE menegaskan bahwa kondisi gas relatif stabil di level 2.722 MMSCFD.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan menargetkan produksi akhir 2026 sebesar 1,030 juta BOEPD melalui program filling the gap, dengan fokus pada eksplorasi, pengembangan, dan optimasi produksi.

Program kerja meliputi seismik 2D sepanjang 904 km, 3D seluas 1.660 km², pemboran eksplorasi 16 sumur, pengembangan sekitar 800 sumur, lebih dari 1.200 workover, serta lebih dari 23.000 kegiatan well intervention.

Dari sisi pengembangan, PHE melanjutkan greenfield di Akasia Prima, Manpatu, OOX, dan Sisinubi, serta optimalisasi lapangan mature seperti Benuang, ONWJ, Abab, Tanjung, Miring Barat, Lembak, Kemang, Tandus, dan Salawati.

Pada EOR, kegiatan meliputi injeksi kimia di Minas (Stage A), steam flood di North Duri Development, serta pilot polimer di OSES. Aktivitas lain juga mencakup put on production dan multi-stage fracturing di Rokan.

Selain itu, PHE mengembangkan peluang Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari strategi dual growth menuju energi yang lebih bersih.

Perseroan juga menekankan pentingnya dukungan fiskal untuk lapangan marginal, serta akselerasi aspek enabler seperti perizinan, pembebasan lahan, keandalan listrik, dan suplai gas untuk mempercepat eksekusi proyek.

“Dukungan pada aspek enabler seperti perizinan, pembebasan lahan, keandalan listrik, dan suplai gas sangat penting untuk mempercepat eksekusi proyek. Semakin cepat proyek berjalan, semakin besar manfaat bagi seluruh pihak,” tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra