Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Apa Itu Abraham Accords? Perjanjian Inisiatif Amerika untuk Ubah Peta Timur Tengah usai Perang Iran

Apa Itu Abraham Accords? Perjanjian Inisiatif Amerika untuk Ubah Peta Timur Tengah usai Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nama Abraham Accords kembali menjadi sorotan dunia setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta sejumlah negara Muslim bergabung dalam perjanjian tersebut usai konflik Iran dan Israel memanas.

Bagi banyak orang, Abraham Accords mungkin terdengar seperti istilah diplomatik biasa. Namun di balik nama itu, tersimpan proyek geopolitik besar yang berpotensi mengubah peta politik Timur Tengah.

Baca Juga: Iran Dijanjikan US$12 Miliar Asal Damai dengan Amerika dan Israel? Begini Klarifikasi dari Qatar

Abraham Accords merupakan serangkaian kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan negara-negara Arab.

Kesepakatan ini lahir pada 2020 saat Trump masih menjabat presiden AS periode pertama.

Saat itu, Uni Emirat Arab dan Bahrain menjadi negara Arab pertama dalam 25 tahun yang resmi membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Langkah tersebut dianggap bersejarah karena mematahkan tradisi panjang dunia Arab yang sebelumnya menolak normalisasi hubungan dengan Israel sebelum negara Palestina terbentuk.

Trump kala itu menyebut Abraham Accords sebagai “fajar Timur Tengah baru” yang akan mengubah arah sejarah kawasan.

Setelah UEA dan Bahrain, Maroko dan Sudan ikut bergabung. Bahkan Kazakhstan tercatat masuk ke dalam kesepakatan itu tahun lalu.

Kesepakatan ini juga tidak lepas dari peran Jared Kushner, menantu Trump, yang menjadi arsitek utama diplomasi tersebut.

Namun di balik narasi perdamaian, Abraham Accords sebenarnya menyimpan kepentingan strategis yang jauh lebih besar.

Hidden angle dari kesepakatan ini adalah upaya membangun poros baru Timur Tengah yang lebih dekat dengan Amerika Serikat dan Israel untuk menghadapi pengaruh Iran.

Karena itu, Trump kembali mengangkat Abraham Accords setelah perang Iran mereda.

Ia melihat momentum pascaperang sebagai peluang untuk memperluas jaringan negara yang mau bekerja sama dengan Israel, termasuk Saudi Arabia, Qatar, Pakistan, hingga Turki.

Meski demikian, jalan menuju normalisasi total masih penuh hambatan.

Banyak negara Muslim tetap menjadikan isu Palestina sebagai syarat utama sebelum membuka hubungan resmi dengan Israel.

Baca Juga: Bukan 'Serangan Mendadak' Biasa, Ada Bau Operasi Intelijen di Balik Serangan Terbaru Amerika ke Iran

Karena itu, Abraham Accords kini bukan hanya soal hubungan diplomatik biasa, melainkan simbol pertarungan masa depan Timur Tengah: apakah kawasan akan bergerak menuju koalisi baru bersama Israel, atau tetap bertahan pada solidaritas lama terhadap Palestina.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar