Jejak PT INTI, BUMN Teknologi Era Soeharto yang Kini Terancam Ditutup Danantara
Kredit Foto: Ist
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana menutup PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI, BUMN teknologi yang telah berdiri sejak 1974. Hal ini disampaikan Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria di tengah proses penataan dan streamline perusahaan-perusahaan pelat merah yang dinilai bermasalah secara bisnis dan operasional.
Dony mengatakan pemerintah saat ini masih melakukan asesmen dan verifikasi terhadap kondisi PT INTI sebelum memutuskan langkah lanjutan terkait restrukturisasi perusahaan.
“Sedang dilakukan asesmen, sedang dicek sebagaimana yang saya sampaikan mengenai streamline kan. Selagi dilakukan proses untuk verifikasi semuanya,” ujar Dony di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Meski demikian, Dony memastikan proses evaluasi tersebut tidak akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan PT INTI.
“Oh enggak ada, pekerjanya aman, kan kita udah bilang kan. Enggak ada yang di-PHK,” katanya.
Dari Pabrik Telepon hingga Digital, Jejak Panjang PT INTI
PT INTI merupakan BUMN yang bergerak di sektor telekomunikasi dan teknologi informasi dengan kepemilikan 100% pemerintah Indonesia. Perusahaan resmi berdiri pada 30 Desember 1974 dan bermarkas di Bandung, Jawa Barat.
Dalam dokumen profil perusahaan, PT INTI menyebut memiliki portofolio bisnis di bidang manufaktur, system integrator, dan digital.
Perjalanan bisnis PT INTI bermula dari kerja sama Perusahaan Negara Telekomunikasi dengan Siemens AG pada periode 1966–1974 untuk membangun industri manufaktur telekomunikasi nasional.
Pada periode 1989–2002, perusahaan masuk dalam kelompok industri strategis nasional di bawah Badan Pengelola Industri Strategis dan kemudian berada di bawah Kementerian BUMN.
Baca Juga: DSI Resmi Jadi BUMN untuk Ekspor Satu Pintu SDA
Baca Juga: BP BUMN Mau Pangkas Puluhan Anak Usaha Telkom, Hanya Sisakan 19 Entitas di 2026
Selanjutnya, PT INTI mengembangkan bisnis sebagai system integrator pada 2002–2019 melalui layanan jaringan telekomunikasi seluler, civil mechanical electrical (CME), outside plant (OSP), hingga jaringan komunikasi pertahanan.
Sejak 2020, perusahaan mulai memperluas model bisnis ke sektor digital dan teknologi berbasis perangkat cerdas.
Dalam lini manufaktur, PT INTI memproduksi berbagai perangkat seperti pembaca e-KTP, laptop, CCTV, access point, lampu PJU LED, hingga Chromebook lokal.
Sementara di lini digital, perusahaan mengembangkan layanan e-voting, cloud computing, electronic know your customer(e-KYC), Automated Fingerprint Identification System (AFIS), serta layanan keamanan siber.
PT INTI juga memiliki sejumlah anak usaha yang bergerak di bidang teknologi informasi, infrastruktur jaringan, hingga produksi logam dan plastik industri.
Baca Juga: BUMN Sumbang Sepertiga APBN, Target Untung Rp360 Triliun Tahun Ini
Baca Juga: Dony Oskaria Pastikan Transformasi BUMN Tetap Utamakan Perlindungan Pekerja
Adapun visi perusahaan adalah menjadi “Perusahaan Teknologi Terpercaya dengan Cakupan Industri yang Luas dan Berkualitas.”
Sinyal penutupan PT INTI muncul di tengah langkah Danantara melakukan penataan terhadap BUMN yang dinilai tidak lagi memiliki model bisnis berkelanjutan atau mengalami persoalan keuangan berkepanjangan akibat pengelolaan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa integrasi antarentitas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: