Kredit Foto: BPMI
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan sebagian besar perusahaan pelat merah masih menghadapi persoalan keuangan yang serius. Kondisi tersebut, menurutnya, juga dialami sejumlah BUMN di sektor properti.
Pernyataan itu disampaikan Dony seusai menghadiri Akad Massal 62.000 Rumah Subsidi di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). Ia menyebut sekitar 70 persen BUMN masih berada dalam kondisi yang memerlukan pembenahan menyeluruh.
"Bayangkan sedemikian banyak perusahaan BUMN, mungkin 70 persennya itu kondisinya begitu. Gimana? (Keuangannya buruk pak?) Iya. WIKA Realty. Anda tanya aja. Cek sama direksinya. Gimana WIKA Realty? Apa yang kami (Danantara) lakukan? Bagaimana kami merestrukturisasinya? PP. Adhi Karya. WIKA Realty lebih berat," katanya.
Dony menjelaskan persoalan keuangan tersebut berdampak pada banyak proyek properti yang berhenti di tengah jalan. Bahkan dalam satu kawasan, menurutnya, terdapat tiga proyek milik BUMN berbeda yang sama-sama tidak selesai.
"Bisa bayangkan di satu lokasi, itu ada tiga perusahaan properti kita (WIKA Realty, PP, dan Adhi Karya). Tiga-tiganya mangkrak," ungkapnya.
Selain proyek yang mangkrak, Dony mengatakan banyak hunian yang telah dibangun juga gagal terserap pasar. Ia menegaskan Danantara kini berupaya memperbaiki kondisi perusahaan-perusahaan tersebut melalui pendekatan bisnis yang lebih sehat.
"Semuanya nggak ada yang laku. Nah, dengan tentu dengan berbagai macam persoalan. Prinsipnya adalah saya pribadi dan juga seluruh tim, prinsipnya adalah kita ingin memperbaiki seluruh BUMN kita satu per satu dengan pendekatan korporasi," terangnya.
Dony mengaku memilih terbuka mengenai kondisi riil BUMN agar publik memahami tantangan yang dihadapi. Ia bahkan mencontohkan adanya perusahaan yang hanya memiliki aset sekitar Rp7 triliun, tetapi dibebani utang hingga Rp24 triliun.
Baca Juga: Penjualan Properti Turun 25,67%, Pinhome Catat Pencarian Rumah Justru Naik
"Karena properti, saya frustasi juga. Frustasi kan? Jadi anda bayangkan, gimana nggak frustasi? Kita impairment di situ. Aset jadi tinggal 7 triliun. Utangnya 24 triliun. Mau diapain?" terangnya.
Sebelumnya, PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) mengakui tidak mampu melanjutkan sejumlah proyek apartemen, termasuk LRT City dan Oase Park, akibat kondisi keuangan yang memburuk. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait kemudian mengusulkan agar Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit, termasuk audit investigatif, terhadap PT Adhi Karya sebagai induk perusahaan ADCP setelah banyak konsumen belum menerima pengembalian dana atas proyek yang mangkrak.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy