Usai Nyaris Sentuh Rp18.000, Menkeu Purbaya Bawa Kabar Baik soal Rupiah
Kredit Foto: Istimewa
Setelah mencatat rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat, nilai tukar rupiah diperkirakan tidak akan terus terpuruk. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan optimistis tekanan yang menghantam mata uang Garuda akan mulai mereda dalam beberapa bulan mendatang.
Optimisme itu muncul di tengah kondisi rupiah yang baru saja menyentuh level terlemah sepanjang sejarah, yakni Rp17.881 per dolar AS pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Meski demikian, pemerintah menilai sejumlah perkembangan global mulai menunjukkan arah yang lebih positif.
Menurut Purbaya, salah satu faktor yang berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah adalah membaiknya situasi geopolitik internasional, terutama terkait hubungan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
"Melihat berbagai pemberitaan internasional, ada indikasi bahwa Amerika Serikat, Iran, dan Israel hampir mencapai kesepakatan. Dengan kondisi keamanan dan situasi global yang diperkirakan membaik dalam dua hingga tiga bulan ke depan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan berakhir," kata Purbaya di Wisma Danantara, Minggu (31/5/2026).
Ia menilai stabilitas geopolitik global memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah. Jika ketegangan internasional mereda, kepercayaan investor terhadap negara berkembang seperti Indonesia juga berpotensi meningkat.
Baca Juga: Purbaya Berkelakar Ngaku Stres Rupiah Sentuh Rp17.800: Kan Ekonomi Bagus
Purbaya menjelaskan bahwa perbaikan kondisi global diyakini akan memperkuat fundamental ekonomi dan mendorong arus investasi kembali masuk ke pasar keuangan domestik.
Di sisi lain, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus menjaga stabilitas sektor keuangan nasional agar gejolak pasar tidak semakin menekan rupiah.
Salah satu fokus utama yang dilakukan adalah menjaga pasar obligasi domestik tetap menarik bagi investor, terutama investor asing yang memegang surat utang negara.
"Kami terus berkoordinasi secara intensif dengan bank sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Salah satu tujuannya adalah agar investor asing yang memiliki obligasi domestik tidak mengalami capital loss yang terlalu dalam akibat gejolak pasar," ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting karena tekanan di pasar obligasi dapat memicu keluarnya dana asing yang pada akhirnya berdampak terhadap nilai tukar rupiah.
Meski saat ini rupiah masih berada dalam tekanan berat, Purbaya meyakini kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Ia percaya kombinasi antara membaiknya situasi global dan koordinasi kebijakan dalam negeri akan membantu memulihkan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Nyaris Sentuh Rp18.000, Ekonom Sebut Rupiah Memikul Banyak Beban Berat
"Saya percaya pada akhirnya kita dapat mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah sehingga nilai tukar dapat bergerak lebih stabil ke depan," terang Purbaya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal optimisme dari pemerintah di tengah sorotan terhadap pelemahan rupiah yang sempat menembus level terburuk sepanjang sejarah. Harapannya, jika ketegangan global benar-benar mereda dalam dua hingga tiga bulan mendatang, tekanan terhadap mata uang Indonesia juga akan ikut surut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: