Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dituding 'Antek Asing' dan Agen Soros, Ferry Latuhihin Buka Suara: 'Gue Agen Koran!'

Dituding 'Antek Asing' dan Agen Soros, Ferry Latuhihin Buka Suara: 'Gue Agen Koran!' Kredit Foto: AI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat ekonomi senior, Ferry Latuhihin buka suara terkait tudingan miring yang kerap dialamatkan kepadanya sebagai "antek asing" dan agen dari miliarder sekaligus spekulan kelas dunia, George Soros. Klarifikasi ini disampaikan Ferry dengan nada kelakar yang spontan memecah suasana.

Isu tersebut mencuat dalam sebuah tayangan podcast (siniar) bersama analis politik sekaligus Dosen Universitas Paramadina, Hendri Satriyo.

"Lo katanya agen Soros?" tanya Hendri Satriyo blak-blakan, memancing konfirmasi langsung dari Ferry.

Mendengar pertanyaan tersebut, Ferry Latuhihin justru meresponsnya dengan tertawa lepas.

"Gue agen koran, haha!" seloroh Ferry, membantah tuduhan tersebut.

Ferry menimpali bahwa tuduhan "antek asing" atau "agen Soros" memang kerap dilemparkan netizen kepada para pemikir atau ekonom yang memiliki pandangan kritis kepada pemerintah atau ekonom yang berbasis data internasional.

Menurut Ferry, fenomena ini terjadi karena masyarakat cenderung menyukai narasi yang bombastis ketimbang substansi ekonomi.

"Orang kita tuh senang hal-hal yang sensasional, jadi nyari-nyari sensasi. Agen Soros-lah, agen beras-lah, agen pulsa-lah, gak ada lah," ujar Hendri.

Lebih lanjut, Ferry menjelaskan bahwa menuduh seseorang menjadi "agen" George Soros menunjukkan ketidakpahaman tentang cara kerja pasar keuangan global dan bagaimana Soros bergerak.

Ia menegaskan bahwa figur sekiber Soros tidak membutuhkan jaringan "agen rahasia" untuk merontokkan ekonomi sebuah negara.

Menurut Ferry, Soros hanya memanfaatkan celah dari kebijakan ekonomi suatu negara yang fundamentalnya sudah rapuh. Ia mencontohkan Soros bergerak murni sebagai spekulan pasar. Jika sebuah negara tidak mengelola ekonominya dengan baik, pasar akan otomatis menyerang.

Ferry mencontohkan peristiwa bersejarah Black Wednesday tahun 1992 ketika Soros melakukan short-selling massal terhadap mata uang Pound sterling.

"Attacking Bank of England," cetus Ferry.

Sementara itu, dari sisi manfaat dari manuver Soros, secara tidak langsung, aksi Soros menjadi "alarm" keras bagi bank sentral di seluruh dunia untuk menjaga kestabilan makroekonomi mereka.

"Soros itu gak perlu agen-agenan. Kalau (ekonomi) rapuh, diserang spekulatif, jebol diserang sama dia. Soros ada manfaatnya. (Jika suatu negara) gak mengurus ekonominya dengan baik, bakal dihajar," pungkas Ferry.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat