Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hubungan Memanas, Presiden Amerika Murka ke Netanyahu: Semua Orang Benci Israel karena Hal Ini

Hubungan Memanas, Presiden Amerika Murka ke Netanyahu: Semua Orang Benci Israel karena Hal Ini Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memanas. Trump dilaporkan meluapkan kemarahannya dalam percakapan telepon yang berlangsung sengit setelah Israel meningkatkan operasi militernya di Lebanon.

Dikutip dari Axios, Selasa (2/6), menurut sejumlah sumber yang mengetahui isi pembicaraan tersebut, Trump menilai langkah Israel justru mengancam upaya diplomatik yang sedang dijalankan Washington dengan Iran.

Baca Juga: Harga Bensin Meroket Tajam karena Perang Iran dan Amerika, Trump: Rakyat Akan Mengerti

Dalam percakapan itu, Trump disebut menegur keras Netanyahu dan mempertanyakan keputusan Israel yang berencana memperluas serangan hingga ke Beirut, ibu kota Lebanon.

Sumber pemerintah AS yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut Trump menganggap tindakan Israel berisiko memperburuk posisi negara itu di mata dunia internasional.

Trump bahkan memperingatkan bahwa serangan terhadap Beirut akan membuat Israel semakin terisolasi secara diplomatik.

"Semua orang sekarang membenci Israel karena ini," demikian ringkasan pernyataan Trump yang disampaikan salah satu pejabat AS kepada media.

Kemarahan Trump disebut dipicu oleh kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Lebanon dapat menggagalkan negosiasi yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.

Sebelumnya, Iran dikabarkan mengancam menghentikan seluruh pembicaraan dengan Washington apabila Israel terus memperluas operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Situasi tersebut membuat Gedung Putih khawatir proses diplomasi yang telah berjalan berbulan-bulan akan runtuh.

Selain mempermasalahkan ancaman serangan ke Beirut, Trump juga disebut menyoroti tingginya jumlah korban sipil akibat operasi militer Israel.

Pejabat AS lainnya mengatakan Trump keberatan dengan strategi militer Israel yang dinilai terlalu agresif, termasuk penghancuran bangunan untuk menargetkan satu komandan Hizbullah.

Percakapan panas itu akhirnya berdampak pada perubahan sikap Israel.

Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa rencana serangan terhadap target Hizbullah di Beirut saat ini tidak lagi dilanjutkan.

Meski demikian, Netanyahu tetap menegaskan posisi pemerintahannya tidak berubah. Dalam pernyataan resminya setelah berbicara dengan Trump, Netanyahu mengatakan Israel akan tetap menyerang target di Beirut apabila Hizbullah terus melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.

"Posisi kami tetap sama," kata Netanyahu.

Di balik ketegangan tersebut, kedua pemimpin masih terus berkoordinasi terkait berbagai isu strategis, terutama konflik Iran.

Namun sejumlah sumber menyebut percakapan terbaru ini menjadi salah satu komunikasi paling buruk antara Trump dan Netanyahu sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih.

Baca Juga: 'Buruk atau Lebih Buruk', Iran Tunggu Amerika Terima Syarat Damai yang Diajukan Teheran

Ketegangan itu memperlihatkan semakin besarnya perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv mengenai cara mengelola konflik regional yang kini melibatkan Iran, Lebanon, dan Israel secara bersamaan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar