Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Situasi Kalah-kalah bagi Pemain,' Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Paling Berat bagi Iran

'Situasi Kalah-kalah bagi Pemain,' Piala Dunia 2026 Jadi Turnamen Paling Berat bagi Iran Kredit Foto: AP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Piala Dunia 2026 akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda bagi Tim Nasional Iran. Tidak hanya datang sebagai wakil Asia, Iran juga tiba di turnamen terbesar dunia itu dalam kondisi yang bisa dibilang "pincang" setelah dihantam perang, krisis politik, hingga persoalan visa yang membuat sebagian anggota rombongan gagal masuk ke Amerika Serikat.

Dikutip dari Reuters, Timnas Iran tiba di Kota Tijuana, Meksiko, Minggu (8/6/2026) dini hari waktu setempat setelah menjalani pemusatan latihan selama tiga pekan di Turki. Dari Tijuana, skuad Iran akan mempersiapkan diri menghadapi tiga pertandingan fase grup Piala Dunia yang digelar di Amerika Serikat.

Baca Juga: 'Ngapain Nunggu,' Roy Suryo Klaim Masyarakat Sudah Tahu Hasil Sidang Ijazah Jokowi

Namun perjalanan menuju turnamen kali ini jauh dari kata normal. Untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia digelar pada 1930, sebuah negara peserta akan bermain di negara tuan rumah yang sedang terlibat perang dengannya. Situasi tersebut membuat kehadiran Iran di Piala Dunia berubah menjadi lebih dari sekadar ajang olahraga.

Federasi Sepak Bola Iran bahkan memindahkan markas tim secara mendadak dari Arizona ke Meksiko. Langkah itu dilakukan karena ketidakpastian terkait visa masuk ke Amerika Serikat dan meningkatnya pandangan di Iran bahwa keberadaan tim di wilayah AS harus diminimalkan.

Duta Besar Iran untuk Meksiko, Abolfazl Pasandideh mengatakan keputusan tersebut diambil setelah muncul berbagai kekhawatiran mengenai akses dan keamanan rombongan tim.

Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengaku kondisi tersebut merugikan persiapan teknis timnya. Menurut dia, idealnya Iran sudah berada di Tijuana sejak pekan lalu untuk beradaptasi dengan perbedaan waktu sebelum pertandingan pertama.

"Biasanya dalam turnamen seperti ini, pertimbangan kemanusiaan dan etika harus didahulukan daripada aspek teknis. Saya merasa pertimbangan itu tidak diberikan kepada kami," ujarnya.

Tekanan yang dihadapi Iran tidak berhenti pada persoalan logistik. Bek senior Iran Ehsan Hajsafi mengungkapkan skuadnya telah melewati situasi yang sangat sulit sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Meski demikian, ia menegaskan para pemain tetap berada dalam kondisi fisik yang baik dan siap bertanding.

Di luar lapangan, Timnas Iran juga harus menghadapi tekanan politik yang terus membayangi. Gelombang demonstrasi besar yang mengguncang Iran sejak akhir tahun lalu berujung pada tindakan keras aparat keamanan dan memperdalam perpecahan di dalam negeri.

Direktur Studi Iran di Stanford University, Abbas Milani, menilai para pemain kini berada dalam posisi yang sangat sulit.

"Ini menjadi situasi kalah-kalah bagi para pemain. Ada tekanan agar mereka tidak bermain untuk tim nasional, ada tekanan agar menunjukkan solidaritas kepada rakyat, padahal para atlet hanya ingin bermain sepak bola," kata Milani.

Situasi semakin rumit ketika Amerika Serikat baru menerbitkan visa bagi para pemain Iran sekitar 10 hari sebelum laga pertama mereka di Piala Dunia. Meski para pemain akhirnya memperoleh izin masuk, tidak semua anggota rombongan mendapatkan perlakuan yang sama.

Federasi Sepak Bola Iran mengungkapkan sejumlah anggota penting tim, termasuk unsur manajerial dan administratif, tidak diberikan visa oleh pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Duta Besar Iran, sekitar 15 dari total 70 anggota rombongan yang tiba di Tijuana tidak memperoleh izin memasuki AS.

Federasi Iran menilai langkah tersebut melanggar kewajiban negara tuan rumah serta bertentangan dengan regulasi FIFA.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Iran tetap harus fokus menghadapi pertandingan Grup G. Mereka dijadwalkan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni, Belgia pada 21 Juni, dan Mesir pada 26 Juni.

Baca Juga: 'Ada Tekanan, Otaknya Bukan Beliau,' Sony Sanjaya Ancam Buka Nama-Nama Besar dalam Kasus Korupsi MBG

Namun berbeda dari edisi-edisi sebelumnya, perjalanan Iran di Piala Dunia kali ini tidak hanya soal mengejar prestasi di lapangan. Tim berjuluk Team Melli itu datang membawa beban perang, tekanan politik, ketidakpastian diplomatik, serta keterbatasan personel yang membuat langkah mereka menuju panggung dunia terasa jauh lebih berat dibanding negara peserta lainnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: