Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Piala Dunia 2026 Belum Dimulai, FIFA dan Amerika Sudah Dihantam Kontroversi Besar

Piala Dunia 2026 Belum Dimulai, FIFA dan Amerika Sudah Dihantam Kontroversi Besar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat (AS) Kanada, dan Meksiko seharusnya menjadi pesta sepak bola terbesar dalam sejarah. Namun, sebelum bola pertama bergulir, turnamen tersebut justru sudah dibayangi rentetan kontroversi yang menyeret FIFA dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama.

Alih-alih menjadi simbol persatuan global melalui olahraga, sejumlah kebijakan dan keputusan menjelang turnamen memunculkan kritik tajam dari berbagai pihak. Mulai dari persoalan politik, diskriminasi visa, harga tiket yang dianggap tidak masuk akal, hingga kekhawatiran terhadap dampak lingkungan.

Baca Juga: 'Masalahnya Dimana?' Sony Sonjaya Klaim Tak Langgar Aturan Meski Orang Terdekatnya Punya Dapur MBG

Sorotan terbesar mengarah pada hubungan Presiden FIFA, Gianni Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kedekatan keduanya memicu tudingan bahwa FIFA mulai kehilangan posisi netral yang selama ini menjadi prinsip dasar organisasi sepak bola dunia tersebut.

Kritik muncul setelah Infantino beberapa kali tampil dalam agenda resmi bersama Trump, termasuk saat mengenakan atribut bertuliskan "USA" dan memberikan penghargaan khusus kepada sang presiden dalam rangkaian acara Piala Dunia.

Situasi itu menjadi semakin sensitif karena Amerika Serikat saat ini terlibat ketegangan geopolitik dengan Iran, salah satu peserta Piala Dunia 2026. Kondisi tersebut menciptakan situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah turnamen, yakni ketika negara tuan rumah berada dalam konflik dengan negara peserta.

Masalah berikutnya muncul dari kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang dinilai menghambat kehadiran suporter internasional.

Pendukung dari sejumlah negara seperti Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading dilaporkan menghadapi kesulitan memperoleh visa. Dalam beberapa kasus, hanya pemain dan staf resmi yang mendapatkan izin masuk, sementara suporter tidak memperoleh kemudahan serupa.

Kekhawatiran semakin meningkat karena otoritas Amerika Serikat tidak memberikan jaminan bahwa pemeriksaan imigrasi atau tindakan penegakan hukum tidak akan dilakukan di sekitar stadion selama turnamen berlangsung.

Tak hanya soal visa, FIFA juga mendapat tekanan akibat kebijakan penjualan tiket yang dianggap tidak transparan. Penerapan sistem harga dinamis membuat harga tiket berubah-ubah sesuai tingkat permintaan. Akibatnya, dua orang yang membeli kursi identik bisa membayar harga yang sangat berbeda.

Harga tiket final bahkan menjadi sorotan karena mencapai angka fantastis. Tiket termurah masih berada di kisaran ratusan juta rupiah, sementara kursi premium tertentu ditawarkan hingga sekitar Rp12 miliar.

Sejumlah organisasi konsumen dan kelompok suporter telah mengajukan pengaduan resmi ke otoritas Eropa terkait dugaan praktik penjualan yang dianggap tidak adil.

Kontroversi lain datang dari keputusan FIFA memperluas jumlah peserta menjadi 48 negara. Format baru tersebut membuat jumlah pertandingan melonjak dari 64 menjadi 104 laga. Meski memberikan kesempatan lebih banyak negara tampil di Piala Dunia, sejumlah pengamat menilai kualitas kompetisi berpotensi menurun karena semakin mudahnya tim lolos ke fase gugur.

Ekspansi tersebut juga memunculkan tudingan bahwa FIFA lebih mempertimbangkan kepentingan politik internal organisasi dibanding aspek kompetitif sepak bola.

Di tengah berbagai persoalan itu, isu lingkungan hidup menjadi kritik yang tak kalah besar. Piala Dunia 2026 diperkirakan menghasilkan lebih dari sembilan juta ton emisi karbon akibat luasnya wilayah penyelenggaraan dan tingginya kebutuhan perjalanan udara antarkota tuan rumah.

Banyak stadion berada jauh dari pusat kota dan sulit dijangkau transportasi umum. Kondisi tersebut membuat suporter bergantung pada kendaraan pribadi atau penerbangan domestik yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi.

Sejumlah kelompok lingkungan bahkan menyebut Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi turnamen paling tidak ramah lingkungan dalam sejarah sepak bola modern.

Baca Juga: 'Sepasang Kekasih Juga Bisa Ribut,' Israel Klaim Masih Mesra dengan Amerika di Tengah Perang Iran

Dengan berbagai polemik tersebut, sorotan terhadap Piala Dunia 2026 kini tidak hanya tertuju pada persaingan di lapangan. Sebelum pertandingan pertama dimainkan, FIFA dan Amerika Serikat sudah lebih dulu menghadapi pertanyaan besar mengenai netralitas, keterbukaan, aksesibilitas, dan komitmen terhadap nilai-nilai global yang selama ini diklaim menjadi fondasi olahraga sepak bola dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar