Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bakal Ubah Konstitusi? Trump Ingin Tiga Periode jadi Presiden

Bakal Ubah Konstitusi? Trump Ingin Tiga Periode jadi Presiden Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuka pembicaraan mengenai kemungkinan dirinya maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2028. Trump mengaku sangat ingin mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga, tetapi menyadari ada aturan konstitusi yang membatasi langkah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan pada Selasa (11/8/2026). Ia mengatakan banyak pendukungnya masih mendorongnya untuk kembali maju pada Pilpres 2028.

Trump bahkan mengungkapkan bahwa seruan agar dirinya mencalonkan diri kembali terdengar dalam sebuah acara yang dihadirinya.

Namun, Trump mengakui bahwa aturan mengenai masa jabatan presiden di AS sangat tegas. Amendemen ke-22 Konstitusi AS menetapkan bahwa seseorang tidak dapat dipilih sebagai presiden lebih dari dua kali.

Trump saat ini tengah menjalani periode kedua sebagai Presiden AS setelah kembali memenangkan pemilu pada 2024. Dengan ketentuan tersebut, ia seharusnya tidak dapat kembali mencalonkan diri pada 2028.

Meski demikian, Trump sebelumnya beberapa kali memberi sinyal bahwa masih ada cara untuk memperpanjang masa kekuasaannya. Pernyataan terbaru tersebut kembali memunculkan spekulasi mengenai masa depan politiknya setelah periode kedua berakhir.

Di tengah wacana Trump maju untuk periode ketiga, Partai Republik juga mulai menghadapi pertanyaan mengenai siapa yang akan menjadi figur utama dalam Pilpres 2028.

Trump dilaporkan lebih condong kepada Wakil Presiden James David Vance dibandingkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sebagai calon pemimpin Partai Republik dalam persiapan menuju pemilu tersebut.

Trump disebut masih menilai Vance dan Rubio sebagai dua kandidat potensial. Namun, dukungannya terhadap Rubio dilaporkan mulai berkurang.

Perhatian Trump disebut lebih tertuju pada kemampuan Vance mempertahankan pendekatan politiknya sendiri di tengah situasi yang menantang, sekaligus tetap mendorong agenda pemerintahan.

Meski demikian, sikap Trump terhadap para tokoh di sekitarnya dikenal dapat berubah. Karena itu, posisi Vance maupun Rubio masih mungkin mengalami perubahan menjelang Pilpres 2028.

Baca Juga: Zelenskyy Minta AS Damaikan Ukraina dan Rusia

Selain kedua nama tersebut, Trump juga pernah menyebut sejumlah anggota kabinetnya sebagai figur potensial untuk memimpin Partai Republik, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan mantan Menteri Dalam Negeri Kristi Noem.

Dengan Pilpres 2028 masih berada beberapa tahun lagi, persaingan di internal Partai Republik berpotensi berkembang seiring berakhirnya masa jabatan kedua Trump. Sementara itu, pernyataan Trump mengenai keinginannya maju kembali menunjukkan bahwa isu masa depan politiknya masih akan menjadi perhatian, meski konstitusi AS membatasi masa jabatan presiden hanya dua periode.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat