Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AS Buka Opsi Serangan Militer Bersama dengan Kolombia, Sasar Kelompok Bersenjata

AS Buka Opsi Serangan Militer Bersama dengan Kolombia, Sasar Kelompok Bersenjata Kredit Foto: Antara/Budi Candra Setya
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membuka kemungkinan operasi militer bersama dengan Kolombia untuk memburu kelompok bersenjata. Rencana tersebut mencakup kelompok yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Washington.

Hegseth menyampaikan hal itu saat menghadiri pertemuan Koalisi Antikartel Amerika di Panama City, Rabu (12/8/2026). Pernyataan tersebut muncul setelah Kolombia bergabung dengan koalisi antinarkotika yang dipimpin militer AS.

Hegseth mengatakan Kolombia telah memberikan ruang bagi operasi gabungan untuk menghadapi kelompok teroris dan jaringan teror. Ia kemudian membenarkan bahwa opsi serangan bersama telah dibahas dengan mitranya dari Kolombia.

"Ya," jawab Hegseth ketika ditanya apakah pembahasan tersebut mencakup serangan terhadap kelompok seperti Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan sisa-sisa Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), dikutip Reuters.

ELN telah ditetapkan pemerintah AS sebagai organisasi teroris. Kelompok tersebut menjadi salah satu target yang berpotensi diburu dalam operasi bersama kedua negara.

Hegseth juga menegaskan operasi tersebut dapat dilakukan di wilayah Kolombia. Menurutnya, kelompok teroris yang telah masuk daftar Washington dapat menjadi sasaran tindakan militer AS dengan persetujuan pemerintah mitra.

"Organisasi teroris yang telah ditetapkan, bersama pemerintah mitra, akan menjadi target sah Pemerintah Amerika Serikat," tegas Hegseth.

Perubahan kebijakan keamanan tersebut sejalan dengan agenda Presiden baru Kolombia Abelardo De La Espriella. Pemerintahannya mengusung pendekatan lebih keras untuk memberantas kelompok bersenjata dan jaringan narkotika.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menyambut kebijakan tersebut. Washington bahkan mengumumkan rencana bantuan keamanan senilai US$1 miliar atau sekitar Rp17,86 triliun pada Jumat (7/8/2026).

Dalam pidato pelantikannya, De La Espriella berjanji memberantas tanaman terlarang dan memperkuat perang terhadap kelompok bersenjata. Ia juga menyatakan Kolombia akan bergabung dalam program Shield of the Americas yang digagas Trump.

De La Espriella turut menyalahkan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Gustavo Petro. Menurutnya, kebijakan pemerintahan berhaluan kiri tersebut ikut mendorong meluasnya keberadaan kelompok bersenjata di Kolombia.

Menteri Pertahanan Kolombia Jorge Eduardo Mora juga menyatakan kesiapan negaranya bekerja sama dengan AS. Purnawirawan mayor jenderal itu menilai Kolombia memiliki posisi penting dalam pemberantasan penyelundupan narkotika.

Baca Juga: Demi Selat Hormuz, Amerika Serikat Mulai Pertimbangkan Lupakan Perjanjian Nuklir dengan Iran

Kolombia dinilai dapat memainkan peran strategis di kawasan pesisir Pasifik dan Karibia. Mora menyebut kekuatan negara-negara di kawasan perlu dikerahkan untuk menghadapi jaringan kartel narkotika.

"Menurut saya, sudah saatnya kartel narkoteroris menghadapi kekuatan dan kemampuan seluruh belahan bumi ini, yang dipimpin oleh Amerika Serikat," ujar Mora.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy