Kredit Foto: Istimewa
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menegaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) hanyalah alat bantu, bukan sumber kreativitas.
Menurutnya, AI tidak memiliki empati, pengalaman nyata, maupun kemampuan membaca konteks, sehingga tidak bisa menggantikan peran manusia. Kreativitas tetap lahir dari keberanian manusia untuk berpikir dan mencipta.
Hal tersebut disampaikannya Wamen Ekraf saat menjadi salah satu pembicara dalam sesi Urban Talks with IdeaFest ‘Navigating The Future Through Human Creativity’ yang diselenggarakan di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Minggu (7/6/2026).
“Artificial Intelligence hanyalah sebatas alat bantu, tetapi sumber kreativitas tetap berasal dari manusia. Pengalaman, rasa, empati, dan kemampuan membaca konteks tentu tidak bisa digantikan. Selama manusia masih memiliki keberanian untuk berpikir dan mencipta, kita tetap punya keunggulan,” ungkapnya, dikutip dari siaran pers Kemenekraf, Rabu (10/6).
Baca Juga: 3 Ganjalan Kreator Lokal Susah Raup Cuan, Wamen Ekraf Buka-bukaan
Sesi diskusi ini fokus membahas peran manusia dan kecerdasan buatan dalam ekosistem kreatif, perencanaan kota, serta kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP). Menurut Wamen Ekraf, teknologi termasuk AI perlu dimanfaatkan dan jangan terlalu dipandang sebagai ancaman bagi tiap subsektor ekonomi kreatif.
“Tantangan terbesar kita bukan menghindari AI atau perangkat teknologi lainnya, kita harus bisa menjadi manusia dan memanusiakan manusia. Sebab, kita semua bisa menjadi kreator dari suatu IP. Begitu banyak IP Indonesia yang sudah diterima pasar dunia dengan memanfaatkan teknologi. Internet sudah ada, gadget pun di tangan. Pakai internet sebagai ruang uji kepercayaan pasar dan bangun portofolio sehingga semakin berani amplifikasi ke pasar global,” tambah Wamen Ekraf.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya