Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Biang Kerok Pelemahan Rupiah Baru-baru Ini Ternyata Amerika, Kebijakan Trump Jadi Sorotan!

Biang Kerok Pelemahan Rupiah Baru-baru Ini Ternyata Amerika, Kebijakan Trump Jadi Sorotan! Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali tertekan akibat ancaman kebijakan tarif baru Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia. Mata uang Garuda ditutup melemah tipis 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.725 per dollar AS pada perdagangan Selasa (16/6/2026).

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah kali ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap memanasnya kembali perang dagang setelah Washington berencana mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk asal Indonesia.

Baca Juga: Harga Tiket Selangit, Penonton Piala Dunia 2026 Dicurigai Cuma Hasil Rekayasa FIFA

Menurut Ibrahim, kebijakan tarif tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar Amerika, tetapi juga bisa memberikan efek berantai terhadap sektor manufaktur nasional.

“Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting. AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia,” ujar Ibrahim, dikutip Rabu (17/6).

Amerika Serikat sebelumnya telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan lima negara lainnya. Selain itu, pemerintah memperkirakan tarif impor terhadap produk Indonesia berpotensi meningkat hingga 18 persen setelah investigasi terkait kapasitas berlebih atau excess capacity selesai dilakukan.

Kebijakan tambahan berbasis Pasal 301 Trade Act 1974 tersebut rencananya mulai diterapkan secara bertahap pada 24 Juli 2026.

Di luar kebijakan baru itu, ekspor Indonesia ke Amerika saat ini juga masih dibebani tarif global sebesar 10 persen berdasarkan Pasal 122 Trade Act AS yang berlaku sejak Februari 2026.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa sektor manufaktur Indonesia akan menghadapi tekanan besar, mulai dari penurunan utilisasi pabrik, berkurangnya minat investasi, hingga ancaman terhadap penyerapan tenaga kerja.

Data pemerintah menunjukkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS sepanjang Januari-Juni 2025 mencapai 14,79 miliar dollar AS atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional.

Produk yang diekspor didominasi oleh sektor manufaktur, seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta aksesori.

Di tengah tekanan akibat kebijakan tarif AS, sentimen global sebenarnya sempat membaik setelah Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut memicu penurunan harga minyak dunia dan mendorong penguatan sentimen risiko di pasar global.

Harga minyak mentah Brent bahkan turun ke level terendah dalam tiga bulan, sementara pasar saham global menguat karena ekspektasi biaya energi yang lebih murah dapat menekan inflasi.

Namun, bagi pasar keuangan domestik, ancaman tarif baru Amerika terhadap Indonesia dinilai masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan rupiah.

Baca Juga: Nyatakan Tidak Terima, Israel Meradang Lihat Kesepakatan Damai Amerika dan Iran

Pelaku pasar kini juga menantikan arah kebijakan bank-bank sentral utama dunia, termasuk keputusan Federal Reserve AS dan Bank of England, di tengah berlanjutnya kekhawatiran mengenai tekanan inflasi dan prospek suku bunga global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar