Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bisnis Rp 1.462 Triliun Diperebutkan, Pasar Gelap Baterai EV Marak di China

Bisnis Rp 1.462 Triliun Diperebutkan, Pasar Gelap Baterai EV Marak di China Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri daur ulang baterai kendaraan listrik di China berkembang menjadi ladang bisnis bernilai fantastis. Seiring meningkatnya populasi mobil listrik di negara tersebut, nilai pasar daur ulang baterai EV diperkirakan telah mencapai 558 miliar yuan atau sekitar Rp 1.462 triliun.

Besarnya potensi ekonomi tersebut ternyata memicu persaingan ketat antara perusahaan daur ulang resmi dan jaringan pengumpul ilegal. Di tengah pertumbuhan industri kendaraan listrik yang pesat, pasar gelap baterai bekas dilaporkan semakin marak dan menjadi perhatian serius pemerintah China.

Dilansir dari CarNewsChina, meningkatnya jumlah kendaraan listrik yang memasuki masa penggantian baterai menjadi salah satu faktor yang mendorong berkembangnya bisnis tersebut. Baterai bekas yang masih mengandung material bernilai tinggi seperti lithium, nikel, kobalt, dan mangan menjadi komoditas yang banyak diburu.

Namun tidak semua baterai pensiun masuk ke jalur daur ulang resmi. Sebagian di antaranya justru diperjualbelikan melalui jaringan pengumpul maupun bengkel tidak berizin yang beroperasi di luar pengawasan regulator. Kondisi ini membuat pasokan bahan baku yang seharusnya masuk ke industri resmi berpotensi beralih ke pasar ilegal.

Keberadaan pasar gelap tersebut tidak hanya mengganggu perkembangan industri daur ulang yang sedang dibangun pemerintah China, tetapi juga memunculkan risiko keselamatan. Dalam sejumlah kasus, sel baterai yang telah mengalami degradasi diketahui digunakan kembali tanpa melalui proses pengujian dan sertifikasi yang memadai.

Praktik tersebut dapat meningkatkan risiko korsleting listrik, penurunan performa, hingga kebakaran. Apalagi baterai lithium-ion menyimpan energi dalam jumlah besar yang dapat memicu insiden serius apabila dibongkar atau digunakan kembali tanpa prosedur keselamatan yang benar.

Baca Juga: Mengenal Perbedaan Jenis Baterai Mobil Listrik LFP dan NMC Beserta Keunggulannya

Baca Juga: Toyota Khawatir Transisi Mobil Listrik Ancam Lapangan Kerja

Untuk menutup celah distribusi baterai bekas ke pasar gelap, pemerintah China mulai memperketat pengawasan. Mulai 2026, setiap baterai kendaraan listrik diwajibkan memiliki sistem pelacakan nasional yang memungkinkan regulator memantau perjalanan baterai sejak diproduksi, digunakan, diganti, hingga didaur ulang.

Selain itu, produsen kendaraan listrik dan produsen baterai juga diwajibkan menyediakan jaringan pengumpulan baterai bekas serta bertanggung jawab terhadap proses daur ulang produknya. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri daur ulang resmi sekaligus mengurangi aktivitas perdagangan ilegal.

Tantangan pengelolaan baterai bekas diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang. Sejumlah lembaga riset di China memproyeksikan volume baterai kendaraan listrik yang memasuki masa pensiun dapat mencapai 1 juta ton pada 2030, sehingga kebutuhan terhadap sistem daur ulang yang aman, transparan, dan terstandarisasi menjadi semakin penting bagi keberlanjutan industri kendaraan listrik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman

Tag Terkait: