Mengenal Perbedaan Jenis Baterai Mobil Listrik LFP dan NMC Beserta Keunggulannya
Kredit Foto: Wahyu Pratama
Wacana pemberian insentif berbeda untuk kendaraan listrik berbasis nikel dan non-nikel kembali memunculkan perdebatan di industri otomotif nasional.
Pasalnya, kedua jenis kendaraan listrik tersebut menggunakan teknologi baterai yang berbeda dan dinilai akan memengaruhi arah investasi industri kendaraan listrik di Indonesia.
Secara umum, kendaraan listrik berbasis nikel menggunakan baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) atau NCA (Nickel Cobalt Aluminum).
Sementara kendaraan listrik non-nikel umumnya memakai baterai LFP (Lithium Iron Phosphate).
Perbedaan teknologi baterai tersebut memengaruhi harga kendaraan, jarak tempuh, hingga strategi pengembangan produk para pabrikan otomotif global.
Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), baterai berbasis nikel memiliki kepadatan energi lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan jarak tempuh lebih panjang.
Karena itu, teknologi ini banyak digunakan untuk kendaraan premium dan performa tinggi. Beberapa pabrikan yang banyak menggunakan baterai berbasis nikel antara lain Hyundai, Kia, BMW, Mercedes-Benz, Porsche, hingga Tesla untuk sebagian varian Long Range dan Performance.
Sementara itu, baterai LFP atau non-nikel berkembang pesat pada kendaraan listrik segmen mass market. Menurut IEA, baterai LFP memiliki biaya produksi lebih rendah dan stabilitas termal yang lebih baik dibanding baterai berbasis nikel.
Pabrikan yang banyak menggunakan baterai LFP di antaranya BYD, Wuling pada sejumlah model EV, MG untuk beberapa varian, serta Tesla yang menggunakan teknologi berbeda tergantung varian dan pasar, termasuk LFP pada sebagian model Standard Range.
IEA mencatat penggunaan baterai LFP terus meningkat dan kini mendominasi lebih dari separuh pasar baterai EV global karena biaya produksinya dinilai lebih rendah dibanding baterai berbasis nikel.
Meski demikian, baterai LFP umumnya memiliki kepadatan energi lebih rendah sehingga jarak tempuh kendaraan relatif lebih pendek dibanding baterai NMC.
Perdebatan mengenai dua teknologi tersebut menjadi penting bagi Indonesia mengingat Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia dan tengah mendorong hilirisasi industri baterai kendaraan listrik.
Baca Juga: Pemerintah Masih Itung-Itung, Insentif Pajak Kendaraan Listrik Ditunda
Baca Juga: Insentif EV Berbasis Nikel Dinilai Jadi Kunci Penguatan Hilirisasi Nasional
Karena itu, muncul dorongan agar kebijakan insentif kendaraan listrik dapat mendukung pengembangan rantai pasok berbasis nikel di dalam negeri, mulai dari sektor pertambangan, smelter, hingga manufaktur baterai.
Di sisi lain, sejumlah pelaku industri menilai teknologi non-nikel seperti LFP tetap perlu mendapat ruang karena mampu menekan harga kendaraan listrik sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Mengacu pada laporan IEA, pemilihan jenis baterai kendaraan listrik umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Baterai berbasis nikel banyak digunakan untuk kendaraan dengan kebutuhan jarak jauh dan performa tinggi, sedangkan LFP berkembang pada kendaraan mass market karena efisiensi biaya dan umur pakai yang lebih panjang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: